Aroma antiseptik rumah sakit biasanya membuat Ariana mual, namun pemandangan di lorong depan poli penyakit dalam jauh lebih menyakitkan daripada asam lambung yang tengah menyiksa perutnya. Di sana, Nicholas, pria yang statusnya masih suaminya, berdiri membelakanginya. Kemeja birunya tertekuk rapi di siku, tangannya yang biasanya dingin kini tampak begitu protektif saat merangkul bahu Katrina yang duduk di kursi roda. Ariana terpaku. Dia melihat Nicholas tersenyum, sebuah binar yang belum pernah ia lihat selama dua tahun mereka tinggal di bawah atap yang sama. Tanpa sadar, Ariana mundur perlahan, mengabaikan nomor antreannya yang hampir dipanggil. Obat maag tidak lagi penting, luka di hatinya jauh lebih mendesak. Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ariana duduk di meja makan yang dingin, menunggu suara mesin mobil Nicholas di halaman. Saat pria itu akhirnya pulang, dia melintas begitu saja, aroma parfum maskulin khas pria itu menusuk indra penciuman Ariana. Tidak
ปรับปรุงล่าสุด : 2024-06-19 อ่านเพิ่มเติม