Share

Suamiku, Mari Kita Bercerai
Suamiku, Mari Kita Bercerai
Author: SayaNi

1. Aku Ingin Bercerai!

Author: SayaNi
last update Last Updated: 2024-06-19 17:30:35

Aroma antiseptik rumah sakit biasanya membuat Ariana mual, namun pemandangan di lorong depan poli penyakit dalam jauh lebih menyakitkan daripada asam lambung yang tengah menyiksa perutnya.

Di sana, Nicholas, pria yang statusnya masih suaminya, berdiri membelakanginya. Kemeja birunya tertekuk rapi di siku, tangannya yang biasanya dingin kini tampak begitu protektif saat merangkul bahu Katrina yang duduk di kursi roda.

Ariana terpaku. Dia melihat Nicholas tersenyum, sebuah binar yang belum pernah ia lihat selama dua tahun mereka tinggal di bawah atap yang sama. Tanpa sadar, Ariana mundur perlahan, mengabaikan nomor antreannya yang hampir dipanggil. Obat maag tidak lagi penting, luka di hatinya jauh lebih mendesak.

Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ariana duduk di meja makan yang dingin, menunggu suara mesin mobil Nicholas di halaman. Saat pria itu akhirnya pulang, dia melintas begitu saja, aroma parfum maskulin khas pria itu menusuk indra penciuman Ariana. Tidak ada sapaan, bahkan tidak ada lirikan.

Ariana mengepalkan tangan, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya. Ia mengikuti Nicholas ke lantai dua dan berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka.

"Aku melihatmu di rumah sakit tadi pagi. Bersama Katrina," suara Ariana sedikit bergetar, meski ia mencoba terdengar datar.

Nicholas yang sedang melepas jam tangannya hanya berhenti sejenak. "Oh," jawabnya singkat tanpa menoleh. Dia kemudian meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Seperti keberadaan Ariana hanyalah gangguan angin lalu bagi pria itu.

Dada Ariana sesak. Ia menunggu hingga Nicholas keluar, lalu mengikutinya sampai ke ruang kerja. Sebelum pria itu sempat duduk di depan komputernya, Ariana memotong, ​"Aku ingin bicara serius, Nick,"

​Nicholas tetap diam. Jemarinya langsung menari di atas keyboard laptopnya.

​"Nick... mari kita bercerai saja," ucap Ariana lebih keras, kali ini dengan nada yang menuntut perhatian

Kali ini jemari Nicholas berhenti sesaat. Namun, dia tetap tidak menatap Ariana. Jarinya mulai menari kembali di atas keyboard. "Jangan konyol. Aku sedang banyak pekerjaan."

"Nicholas Nathan! Aku serius!" suara Ariana meninggi, air mata mulai menggenang.

Nicholas menghela napas panjang, sebuah suara yang menandakan bahwa dia sangat terganggu. "Lakukan sesukamu," ucapnya dingin. "Keluarlah, jika kau sudah selesai bicara. Aku harus fokus."

Jawaban itu adalah pukulan terakhir bagi Ariana. Pria ini bahkan tidak merasa perlu mempertahankan hubungan mereka, atau setidaknya bertanya mengapa.

Bagi Ariana, dirinya mungkin hanyalah bagian dari dekorasi rumah yang tidak terlalu penting.

​"Baik," desis Ariana pedih. Ia mengira Nicholas setuju karena ingin kembali pada Katrina. "Aku akan pergi."

​Namun, saat kakinya mencapai ambang pintu, ia teringat janji lain. "Ibu memintaku menemuinya besok siang. Aku akan sekalian memberitahunya tentang rencana perceraian kita."

"Terserah," sahut Nicholas tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

***

Keesokan harinya, Ariana melajukan mobilnya menuju kawasan elite, tempat kediaman mewah ibu mertuanya, Rachel, berada. Begitu masuk, Rachel menyambutnya dengan pelukan hangat yang terasa begitu tulus.

​"Ariana, manis! Ayo masuk, Ibu sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu," ujar Rachel ramah. Mereka duduk di sofa.

​"Kau pucat sekali hari ini, sayang," lanjut Rachel lembut sembari menatap wajah menantunya.

Namun, keramahan itu terasa seperti lapisan gula tipis di atas empedu. Setelah beberapa saat berbasa-basi di ruang tamu itu, Ariana memberanikan diri.

"Ibu... maafkan aku. Pernikahanku dengan Nicholas... sepertinya tidak bisa lagi dilanjutkan."

Suasana hangat di ruang tamu itu tiba-tiba berubah dingin. Senyum di wajah Rachel luruh, digantikan oleh gurat tajam yang menyeramkan.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Ariana, tanpa ia bisa menghindar, meninggalkan rasa panas yang berdenyut di sudut bibirnya.

​"Beraninya kau bicara soal cerai!" bentak Rachel, suaranya kini melengking marah. "Kau lupa posisi keluargamu? Kau lupa siapa yang membayar semua utang judi pamanmu agar ayahmu tidak membusuk di penjara?"

Ariana berlutut, air matanya tumpah. "Tapi Nicholas tidak mencintaiku, Bu. Dia masih bersama Katrina..."

"Aku tidak peduli Nicholas mencintaimu atau tidak!" bentak Rachel, ia berdiri tegak menghina Ariana yang bersimpuh. "Aku membelimu bukan untuk dicintai. Aku memilihmu karena kau sehat, dan punya gen yang bagus untuk meneruskan garis keturunanku. Tugasmu hanya memberikan cucu sesuai kontrak!"

Ingatan Ariana terlempar ke dua tahun lalu. Rachel, yang merupakan atasan ayahnya, menawarkan solusi untuk melunasi seluruh hutang ayahnya, asalkan Ariana menikah dengan Nicholas dan memberikan cucu.

Rachel semula meremehkan status sosial Ariana yang miskin, namun berubah pikiran setelah melihat catatan akademis Ariana yang cemerlang.

Rachel kemudian berjalan ke arah meja kecil dan mengambil sebuah bungkusan kecil. Ia melemparkannya ke pangkuan Ariana.

"Pastikan Nicholas meminumnya malam ini. Jangan mencoba melarikan diri dari kewajibanmu. Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada keluargamu jika kau gagal lagi," ancam Rachel.

Ariana menatap bungkusan itu dengan tangan gemetar. Ia terjebak di antara suami yang menganggapnya tak kasat mata dan ibu mertua yang menganggapnya sekadar mesin pencetak pewaris.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
nouva arsy
lah KLO kmu nurutin ibu mertuami kmu yg bkal susah sendiri,,,aish,, Ngpaen juga mau berkorban demi paman yg judi kn bukan ayahmu yg pake uang itu,, mskipun ayahmu juga pke,,hrgai dirimu sndiri,,y KLO GK sklh az masih mikir lh ini magister kok kagak bisa mikir ......
goodnovel comment avatar
Lovely runner
Cedfgdddcgtrdghj
goodnovel comment avatar
Mita Mita
mau Karina pergi aj di rumah itu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   135. An Open Chapter

    “Tidak,” jawab Ariana mantap, memotong keheningan. Nicholas menghela napas panjang. "Aku memang berengsek, kan? Setelah apa yang keluargaku lakukan pada ayahmu... aku masih tetap ingin kau bersamaku. Aku tahu itu egois," katanya sembari mengulurkan tangannya, jari-jarinya mengusap lembut rambut Ariana seperti untuk terakhir kalinya. “Aku bahkan terus mencari cara bagaimana memaksamu kembali padaku,” bisiknya, matanya kelam penuh penyesalan. Ariana merasakan kesedihan yang mendalam di balik kata-kata itu. Matanya mulai berkaca-kaca. “Nick…,” dia berusaha menahan dirinya. Seberapa pun dia mencintai pria itu, tetapi rasa sakit dari kebohongan Nicholas masih terlalu sulit untuk diabaikan. Kebohongan yang menghapus semua kebaikan pria itu, setiap momen kehangatan meraka saat bersama terasa seperti kepalsuan. “Maaf,” ucap Nicholas, penuh dengan penyesalan. "Aku minta maaf, dan juga maaf mewakili kakekku. Aku tidak pernah bisa membayangkan rasa sakit yang kau alami,” lanjutnya. Arian

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   134. Past Choices

    Ariana duduk di kursi goyang dekat jendela kamar bayi dengan tenang menyusui Boo dan Bee di lengannya, dengan mata kecil mereka yang terpejam. Namun, di balik tatapan lembutnya, pikiran Ariana dipenuhi kekhawatiran. Di satu sisi, dia merasa lega bahwa kebenaran tentang keluarganya akhirnya terungkap. Di sisi lain, dia sadar, tak peduli seberapa besar kesalahan kakek Henry di masa lalu, pria tua itu tetaplah kakek Nicholas, sosok yang dulu begitu baik dan hangat pada mereka berdua. Ketika dia sedang tenggelam dalam lamunan, pintu kamar perlahan terbuka. Bibi Helen masuk dengan wajah cemas, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang berat. Ariana mengangkat kepalanya, tatapannya berubah dari kehangatan seorang ibu menjadi kewaspadaan seorang wanita yang sudah bersiap menghadapi hal-hal buruk. “Ada apa, Bibi?” tanyanya dengan suara pelan, khawatir akan mengganggu bayi-bayinya yang baru saja mulai terlelap. Bibi Helen terdiam sejenak, berusaha mencari kata-kata yang tepat. Matanya menyi

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   133. The Final breath

    Ruangan sidang berubah senyap setelah hakim mengetukkan palu sebagai tanda penutupan sidang. Richard berdiri dengan raut wajah yang berubah-ubah, antara marah, kecewa, dan ketidakpercayaan.Kakek Henry duduk di kursi terdakwa, tidak lagi memancarkan aura kekuasaan yang dulu begitu dikenal. Bahunya merosot, wajahnya pucat seperti kapur, dan matanya menatap kosong ke satu titik di lantai. Dua petugas pengadilan melangkah mendekat dengan langkah tegas dan hormat. Ketika tangan mereka siap menyentuh lengan kakek Henry, pria tua itu merintih pelan. Tiba-tiba, dia mencengkeram dadanya, raut wajahnya berubah penuh kepanikan, napasnya tersengal-sengal seperti seorang pelari maraton yang kehabisan tenaga. Dalam sekejap, tubuhnya yang renta ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk.“Papi!” seru Richard. Dia berlari mendekat. Ruangan yang semula hening berubah gaduh. Para penjaga dan pengacara membelah diri memberi jalan, sementara dua petugas medis yang bersiaga di luar bergegas masuk. Mereka me

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   132. Henry's Last Stand

    Di kantornya, Richard mendalami berkas-berkas banding yang telah diajukan oleh tim hukumnya. Dia baru saja kembali dari pertemuannya dengan kakek Henry di pusat penahanan, dengan secercah harapan bahwa ayahnya akan diizinkan menunggu di rumah hingga sidang resmi digelar beberapa minggu mendatang. Begitu ponselnya berdering, Richard meraih ponselnya, mengenali nada panik di ujung seberang. “Tuan Richard, persidangan tuan Henry dijadwalkan besok pagi,” suara pengacaranya terdengar tegang, kata-katanya terpotong oleh desakan napas. Richard menggenggam ponselnya lebih erat. “Besok pagi? Itu konyol,” geramnya, mencoba menahan ketidakpercayaannya. “Pengadilan mempercepat jadwal sidang. Ini kasus pidana berat. Hakim memutuskan untuk tidak ada penundaan. Tidak ada peluang untuk banding.” Sekali lagi, Richard menghela napas panjang. Di hadapannya, pengaruhnya yang biasanya melampaui jalur hukum, kini terasa kecil dan sia-sia. Hukum berjalan di luar kendalinya. Keesokan harinya… R

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   131.

    Setelah penangkapan kakek Henry Nathan, nenek Eleanor langsung menghubungi Nicholas. Saat Nicholas akhirnya menjawab telepon, suaranya terdengar tenang, namun Eleanor bisa merasakan jarak yang begitu nyata di antara mereka.“Nicholas… kau tahu kakekmu sudah tua. Dia tidak bisa menghabiskan sisa hidupnya di penjara,” suara Eleanor bergetar. “Apa kau benar-benar akan membiarkan ini terjadi? Kau tahu betapa kami selalu mencintaimu.”Nicholas menutup matanya, menggenggam ponselnya erat. Suara neneknya mengingatkannya pada masa kecilnya, saat kedekatan mereka begitu hangat meskipun kakek Henry memperlakukannya dengan keras. Namun, begitu banyak hal kotor dan kejahatan yang disembunyikan selama bertahun-tahun, telah merusak gambaran keluarganya.“Nenek, tapi kali ini, apa yang kakek lakukan adalah pembunuhan berencana. Hukum tidak akan membiarkannya begitu saja,” kata Nicholas.Eleanor mendesah. “Kakekmu tidak mungkin melakukan semua itu… pasti ada kesalahpahaman! Kakekmu bukanlah pembunuh.

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   130.

    Beberapa hari kemudian, Ariana mengemudikan mobilnya dengan semangat menggiring dua mobil polisi masuk ke dalam pekarangan kediaman kakek Henry. Pak sam seperti biasa membukakan pintu untuk Ariana, wajahnya seketika berubah bingung saat melihat rombongan berseragam. Tak menunggu jawaban, seorang petugas maju, memperlihatkan surat perintah dengan sikap formal. “Kami di sini untuk menahan Tuan Henry Nathan atas tuduhan pembunuhan berencana,” ucap petugas itu, suaranya tegas. Di ruang tengah rumah, kakek Henry dan nenek Eleanor, yang mendengar keributan, segera keluar. Ekspresi mereka menegang melihat petugas yang memenuhi ruang tamu. Henry tampak terkejut, sementara Eleanor berdiri kaku di sampingnya, matanya tak bisa lepas dari sosok Ariana yang berdiri di belakang para petugas dengan pandangan tenang namun dingin. “Apa ini?” tanya Henry dengan nada marah yang berusaha ditahan. Petugas itu melangkah lebih dekat ke Henry, memperlihatkan surat penahanan. "Anda ditahan atas dugaan pem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status