Share

2. Gugat Aku, Mas

Penulis: SayaNi
last update Terakhir Diperbarui: 2024-06-20 11:13:25

Ariana duduk mematung di ruang makan, matanya terpaku pada cangkir teh yang mulai mendingin. Di sampingnya, bungkusan dari Rachel tergeletak, seakan mengejek nasibnya.

Tak ada lagi keinginan untuk menjadi istri yang berbakti. Bayangan Nicholas yang tersenyum hangat kepada Katrina di rumah sakit telah menghancurkan harapannya. Fakta bahwa mereka berdua sama-sama berada di rumah sakit karena sakit, namun Nicholas lebih memilih menemani wanita itu, terasa seperti tamparan bagi Ariana.

Mereka berdua sama sama sedang sakit, tapi pria itu lebih memilih bersama wanita itu. Tidak ada sedikit pun perhatian kepada dirinya yang juga sakit. Pria itu tidak memberikan sedikit pun perhatian kepadanya ketika dia sakit.

Selama dua tahun ini, dia hanya memelihara fatamorgana di gurun yang gersang. Nicholas memang tidak pernah, dan tidak akan pernah, mencintainya.

Klik.

Tiba-tiba lampu dapur menyala terang, menyakitkan netra Ariana yang sudah terbiasa dengan kegelapan beberapa jam lalu.

Nicholas yang baru pulang berdiri di ambang pintu dapur dengan kening yang berkerut samar. “Sedang apa kau duduk gelap-gelapan?” tanyanya. Suaranya datar seperti biasa, namun ada secuil keheranan.

Ariana tetap bergeming, enggan menatap suaminya itu. Ia sibuk menerjemahkan nada bicara pria itu. Sesuatu yang langka, karena biasanya Nicholas hanya akan melintasinya.

“Aku sedang berpikir,” sahut Ariana lirih. Suaranya terdengar asing di telinganya. Ia menunduk, meratapi cangkir teh di genggamannya. “Aku ingin kau melayangkan gugatan cerai ke pengadilan.”

Hanya Nicholas yang bisa membebaskannya. Kontrak dengan Rachel telah mengunci tangan Ariana, namun Nicholas memiliki kunci untuk mematahkan belenggu itu jika pria itu yang menginginkan perceraian.

Nicholas terdiam sesaat, matanya yang sedingin es memindai Ariana. “Berapa banyak uang yang kau inginkan kali ini?”

Pertanyaan itu seperti sembilu bagi Ariana. Di mata Nicholas, mungkin ia memang tak lebih dari wanita oportunis yang gila harta.

​"Aku tidak butuh uangmu," sahut Ariana, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya sesak. "Aku hanya ingin cerai."

“Cerai?” Nicholas mendengus, sebuah tawa getir yang menyerupai cemoohan lolos dari bibirnya. “Lalu kau akan merencanakan kompensasi besar, begitu?”

Ariana mendongak, memberanikan diri menatap Nicholas dengan mata lelahnya. "Aku janji tidak akan menuntut satu sen pun. Aku sudah muak, Nick. Muak berpura-pura menjadi pasangan sempurna di sampingmu. Jika kau begitu memuja Katrina, menikahlah dengannya. Lepaskan aku."

Melihat Ariana yang kini menatapnya, rahang Nicholas mengeras. Kilat amarah yang asing tiba-tiba menyambar di matanya. "Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu!"

​Ariana terperanjat. Nicholas yang dingin dan acuh tak acuh kini tampak meledak. Mengapa pria itu begitu marah? Apakah menyebut nama wanita pujaannya adalah sebuah dosa besar baginya?

​Namun, Ariana tidak ingin mundur lagi. Ia sudah terlalu lama menjadi pajangan yang diabaikan. "Kau tidak punya hak untuk marah padaku!" serunya.

Dalam sekejap, Nicholas melangkah maju. Sebelum Ariana sempat menghindar, tangan pria itu sudah menarik lengannya dengan kasar, memaksanya berdiri. "Sekarang kau sudah berani berteriak padaku?" desisnya.

Tanpa memedulikan rintihan Ariana, Nicholas menyeretnya menuju kamar mandi kamarnya. Matanya menyala oleh amarah yang belum pernah Ariana lihat sebelumnya. Ia melempar Ariana ke lantai kamar mandi yang dingin, hingga kedua lutut wanita itu membentur lantai kamar mandi.

Cengkeraman Nicholas berpindah ke dagu Ariana, menekannya hingga Ariana harus mendongak. “Kau pikir nyalimu sudah cukup besar, huh?” desisnya.

Ia menyambar sikat gigi dari wastafel dan memaksanya masuk ke mulut Ariana. “Kau mau bicara? Aku akan pastikan kau tidak bisa bicara lagi!”

Dengan kasar dan membabi buta, Nicholas menyikat gigi Ariana, seolah ingin melenyapkan setiap kata yang baru saja keluar dari sana.

Ariana meronta. Air mata mengalir deras, membasahi wajahnya yang memerah karena rasa sakit dan penghinaan. “Nick, hentikan!” suaranya parau, tercekik oleh air dan busa.

Ariana mengumpulkan seluruh tenaganya dan mengayunkan tangannya.

Plak!

Tamparan itu mendarat telak di pipi Nicholas.

Waktu seolah berhenti. Nicholas terpaku, kepalanya tertoleh ke samping. Tangan yang tadi mencengkeram dagu Ariana kini terkulai lemas di sisinya. Matanya terbelalak, menatap kosong ke arah dinding. Ia terlihat terkejut.

“Kalau kau memang sangat mencintainya, seharusnya kau tidak pernah mengiyakan pernikahan ini,” ucap Ariana sembari menangis.

Tanpa menoleh lagi, Ariana bangkit dan lari meninggalkan kamar mandi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Hedi Hedi
bagus banget videonya
goodnovel comment avatar
Leonita Ainingrum
marah' a unik ya,,,sikatin gigi istri'a ,,,...
goodnovel comment avatar
armilati nudia
ceritanya menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   135. An Open Chapter

    “Tidak,” jawab Ariana mantap, memotong keheningan. Nicholas menghela napas panjang. "Aku memang berengsek, kan? Setelah apa yang keluargaku lakukan pada ayahmu... aku masih tetap ingin kau bersamaku. Aku tahu itu egois," katanya sembari mengulurkan tangannya, jari-jarinya mengusap lembut rambut Ariana seperti untuk terakhir kalinya. “Aku bahkan terus mencari cara bagaimana memaksamu kembali padaku,” bisiknya, matanya kelam penuh penyesalan. Ariana merasakan kesedihan yang mendalam di balik kata-kata itu. Matanya mulai berkaca-kaca. “Nick…,” dia berusaha menahan dirinya. Seberapa pun dia mencintai pria itu, tetapi rasa sakit dari kebohongan Nicholas masih terlalu sulit untuk diabaikan. Kebohongan yang menghapus semua kebaikan pria itu, setiap momen kehangatan meraka saat bersama terasa seperti kepalsuan. “Maaf,” ucap Nicholas, penuh dengan penyesalan. "Aku minta maaf, dan juga maaf mewakili kakekku. Aku tidak pernah bisa membayangkan rasa sakit yang kau alami,” lanjutnya. Arian

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   134. Past Choices

    Ariana duduk di kursi goyang dekat jendela kamar bayi dengan tenang menyusui Boo dan Bee di lengannya, dengan mata kecil mereka yang terpejam. Namun, di balik tatapan lembutnya, pikiran Ariana dipenuhi kekhawatiran. Di satu sisi, dia merasa lega bahwa kebenaran tentang keluarganya akhirnya terungkap. Di sisi lain, dia sadar, tak peduli seberapa besar kesalahan kakek Henry di masa lalu, pria tua itu tetaplah kakek Nicholas, sosok yang dulu begitu baik dan hangat pada mereka berdua. Ketika dia sedang tenggelam dalam lamunan, pintu kamar perlahan terbuka. Bibi Helen masuk dengan wajah cemas, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang berat. Ariana mengangkat kepalanya, tatapannya berubah dari kehangatan seorang ibu menjadi kewaspadaan seorang wanita yang sudah bersiap menghadapi hal-hal buruk. “Ada apa, Bibi?” tanyanya dengan suara pelan, khawatir akan mengganggu bayi-bayinya yang baru saja mulai terlelap. Bibi Helen terdiam sejenak, berusaha mencari kata-kata yang tepat. Matanya menyi

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   133. The Final breath

    Ruangan sidang berubah senyap setelah hakim mengetukkan palu sebagai tanda penutupan sidang. Richard berdiri dengan raut wajah yang berubah-ubah, antara marah, kecewa, dan ketidakpercayaan.Kakek Henry duduk di kursi terdakwa, tidak lagi memancarkan aura kekuasaan yang dulu begitu dikenal. Bahunya merosot, wajahnya pucat seperti kapur, dan matanya menatap kosong ke satu titik di lantai. Dua petugas pengadilan melangkah mendekat dengan langkah tegas dan hormat. Ketika tangan mereka siap menyentuh lengan kakek Henry, pria tua itu merintih pelan. Tiba-tiba, dia mencengkeram dadanya, raut wajahnya berubah penuh kepanikan, napasnya tersengal-sengal seperti seorang pelari maraton yang kehabisan tenaga. Dalam sekejap, tubuhnya yang renta ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk.“Papi!” seru Richard. Dia berlari mendekat. Ruangan yang semula hening berubah gaduh. Para penjaga dan pengacara membelah diri memberi jalan, sementara dua petugas medis yang bersiaga di luar bergegas masuk. Mereka me

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   132. Henry's Last Stand

    Di kantornya, Richard mendalami berkas-berkas banding yang telah diajukan oleh tim hukumnya. Dia baru saja kembali dari pertemuannya dengan kakek Henry di pusat penahanan, dengan secercah harapan bahwa ayahnya akan diizinkan menunggu di rumah hingga sidang resmi digelar beberapa minggu mendatang. Begitu ponselnya berdering, Richard meraih ponselnya, mengenali nada panik di ujung seberang. “Tuan Richard, persidangan tuan Henry dijadwalkan besok pagi,” suara pengacaranya terdengar tegang, kata-katanya terpotong oleh desakan napas. Richard menggenggam ponselnya lebih erat. “Besok pagi? Itu konyol,” geramnya, mencoba menahan ketidakpercayaannya. “Pengadilan mempercepat jadwal sidang. Ini kasus pidana berat. Hakim memutuskan untuk tidak ada penundaan. Tidak ada peluang untuk banding.” Sekali lagi, Richard menghela napas panjang. Di hadapannya, pengaruhnya yang biasanya melampaui jalur hukum, kini terasa kecil dan sia-sia. Hukum berjalan di luar kendalinya. Keesokan harinya… R

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   131.

    Setelah penangkapan kakek Henry Nathan, nenek Eleanor langsung menghubungi Nicholas. Saat Nicholas akhirnya menjawab telepon, suaranya terdengar tenang, namun Eleanor bisa merasakan jarak yang begitu nyata di antara mereka.“Nicholas… kau tahu kakekmu sudah tua. Dia tidak bisa menghabiskan sisa hidupnya di penjara,” suara Eleanor bergetar. “Apa kau benar-benar akan membiarkan ini terjadi? Kau tahu betapa kami selalu mencintaimu.”Nicholas menutup matanya, menggenggam ponselnya erat. Suara neneknya mengingatkannya pada masa kecilnya, saat kedekatan mereka begitu hangat meskipun kakek Henry memperlakukannya dengan keras. Namun, begitu banyak hal kotor dan kejahatan yang disembunyikan selama bertahun-tahun, telah merusak gambaran keluarganya.“Nenek, tapi kali ini, apa yang kakek lakukan adalah pembunuhan berencana. Hukum tidak akan membiarkannya begitu saja,” kata Nicholas.Eleanor mendesah. “Kakekmu tidak mungkin melakukan semua itu… pasti ada kesalahpahaman! Kakekmu bukanlah pembunuh.

  • Suamiku, Mari Kita Bercerai   130.

    Beberapa hari kemudian, Ariana mengemudikan mobilnya dengan semangat menggiring dua mobil polisi masuk ke dalam pekarangan kediaman kakek Henry. Pak sam seperti biasa membukakan pintu untuk Ariana, wajahnya seketika berubah bingung saat melihat rombongan berseragam. Tak menunggu jawaban, seorang petugas maju, memperlihatkan surat perintah dengan sikap formal. “Kami di sini untuk menahan Tuan Henry Nathan atas tuduhan pembunuhan berencana,” ucap petugas itu, suaranya tegas. Di ruang tengah rumah, kakek Henry dan nenek Eleanor, yang mendengar keributan, segera keluar. Ekspresi mereka menegang melihat petugas yang memenuhi ruang tamu. Henry tampak terkejut, sementara Eleanor berdiri kaku di sampingnya, matanya tak bisa lepas dari sosok Ariana yang berdiri di belakang para petugas dengan pandangan tenang namun dingin. “Apa ini?” tanya Henry dengan nada marah yang berusaha ditahan. Petugas itu melangkah lebih dekat ke Henry, memperlihatkan surat penahanan. "Anda ditahan atas dugaan pem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status