“Sigit, tolong jangan begini...” suara Ayah bergetar di ambang pintu.Tangannya menahan lengan Sigit yang masih menggenggam erat tanganku. Wajahnya cemas, matanya berkaca-kaca di bawah cahaya lampu ruang tamu yang penuh ketegangan.“Ayah mohon, jangan pergi malam-malam begini,” lanjutnya lirih. “Kamu mau ke mana, Nak?” tanyanya lagi pada Sigit. baru kali ini aku melihat betapa panik dan sedihnya Bapak melihat pertengkaran hebat kami.Sigit berhenti sejenak, tapi genggamannya di tanganku justru makin erat. Hujan di luar turun makin deras, menimbulkan suara gemuruh halus di atap rumah.“Yah,” suara Sigit rendah tapi tegas, “selama saya masih di rumah ini, Ayu nggak akan tenang. Saya nggak mau dia terus dihina. Saya nggak akan biarin istri saya diinjak harga dirinya lagi.”Ayah menatapku dengan wajah muram.“Udah, Yah, biarin aja!” tapi sebelum Ayah sempat bicara, suara Ibu Maharani memotong kasar.” Dari dulu juga laki-laki itu nggak tahu malu. Hidup numpang, makan numpang, masih juga be
Terakhir Diperbarui : 2025-11-05 Baca selengkapnya