“Aneh juga,” gumamku lebih pada ke diri sendiri saat teringat seseorang.Aku tidak tahu kenapa setiap kali melihat Kak Raihan, rasanya seperti melihat seseorang yang sudah pernah kukenal di kehidupan lain. Bukan karena dia populer, bukan juga karena dia ketua OSIS yang disukai banyak orang tapi karena caranya memandang dunia, seperti orang yang pernah jatuh dan belajar berdiri lagi dengan hati-hati.Aku anak buruh cuci. Ibu berangkat pagi, pulang sore, dengan tangan yang semakin keriput setiap harinya. Kami tinggal di rumah kecil di pinggir kota Tarrim, di gang yang kalau hujan sedikit saja langsung becek.Tapi Ibu selalu bilang, “Nayla, kamu harus sekolah tinggi biar tanganmu nggak sekasar tangan Ibu.”Aku selalu mengangguk, meski sering kali hati terasa lelah. Sampai aku bertemu Kak Raihan.Pagi itu, di lapangan sekolah, aku baru selesai menempel namaku di papan absensi. Kak Raihan lewat sambil membawa clipboard.“Sudah isi data kelompok?” tanyanya ramah.“Sudah, Kak. Tapi aku takut
Huling Na-update : 2025-11-06 Magbasa pa