“Aku nggak nyangka rumah ini bisa sesepi ini,” ucapku pelan sambil melipat baju di ruang tengah yang luas.Sigit menatapku dari balik meja makan, masih memegang koran. “Sepi itu tanda kamu udah tenang, Yu,” balasnya ringan. “Dulu kamu selalu bilang pengin hidup tanpa suara marah, kan?”Aku mengangguk sembari tersenyum samar. “Iya... tapi kadang malah aneh. Terlalu tenang, kayak sebelum badai.”“Jangan ngomong kayak gitu,” katanya setengah bercanda. “Aku trauma tiap kamu ngomong begitu, selalu ada yang datang.”Aku tertawa kecil. “Siapa yang mau datang ke rumah sebesar ini?”Baru saja kalimat itu keluar, suara bel pagar berbunyi memecah keheningan pagi.Aku spontan menatap Sigit. Ia meletakkan korannya lalu berdiri. “Tuh, kan?” katanya sambil tersenyum kecil, tapi matanya tampak waspada.Pak Rendra datang tergesa dari arah halaman depan. “Pak, Bu... ada tamu,” katanya pelan. “Katanya... adik Ibu Ayu.”Aku membeku.Sigit berhenti di langkahnya, lalu menatapku serius. “Utami?”Aku menela
Last Updated : 2025-11-05 Read more