Belum lima langkah Ryan mendekat ke paviliun, pemandangan di depannya sudah cukup untuk dibaca sepenuhnya.Tiga sosok tergeletak di halaman berbatu. Jubah mereka robek dan bernoda merah gelap, tidak ada satu pun yang bergerak. Sedikit lebih jauh, seorang pemuda setengah berlutut dengan kedua tangan menopang tubuhnya yang hampir roboh. Napasnya berat dan tidak teratur, keringat menetes dari rahangnya ke batu di bawahnya.Di hadapan mereka semua, seekor harimau darah pelangi berdiri menghadang.Bukan anggota klan. Bukan manusia berdarah iblis.Binatang iblis sesungguhnya.Tubuhnya sebesar kerbau dewasa. Bercak-bercak di bulunya bukan hitam dan oranye biasa, melainkan merah pekat, emas, dan ungu yang mengalir di permukaannya seperti lelehan logam yang belum dingin. Setiap kali dia bernapas, udara tepat di depan moncongnya bergetar, panas, seperti tanah di musim kemarau. Dari jarak sepuluh lan
Read more