“Kemarin dulu kan, waktu saya datang ke rumah kamu, saya sudah kasi uang buatmu. Jumlahnya cukup besar, lho, saya kira cukup untuk biaya hidupmu selama sebulan.”Demikian suara Ibu Marianne yang sempat terdengar oleh Marco. Kemudian ada lanjutannya.“Apa? Kamu kecopetan? Memangnya kamu mau pergi ke mana, sampai kecopetan? Kamu naik angkot? Oh, naik bus kota. Mestinya kamu naik taksi, duit dari saya kan, cukup banyak! Kamu bawa semua uang saat naik bus kota? Ya ampun!”Ada suara notifikasi ke ponsel Ibu Marianne.“Maisaroh, saya ada calling yang urgent, nanti kita bahas lagi masalahmu.”Marco lekas turun dari tangga, berjalan beberapa langkah hingga tiba di ambang pintu ruang setrika. Bu Marianne menuruni tangga dengan perlahan, lantas dia berjalan di teras. Tentu saja dia melihat Marco yang berdiri di depan ruang cuci dan setrika.“Marco, kamu sudah pulang. Kok, Mama enggak dengar suara mobilmu masuk garasi?”“Aku naik motor, Ma. Ehm, Mama ngapain naik ke tempat jemuran, malam-malam b
Last Updated : 2026-03-29 Read more