Seorang pria berdiri di ambang pintu, masih diem, kayak nunggu kami gerak duluan.Paruh baya, janggut lebat, muka penuh bekas luka, badan kekar tapi bahunya turun—turun kayak orang yang udah lama berenti berdiri tegak. Senapan tua yang udah usang nempel di punggungnya, tapi tangannya gak ke situ. Matanya tajem, natap kami satu-satu, terus berenti di parang di tanganku, terus lanjut lagi, kayak lagi ngitung sesuatu."Siapa kalian?" tanyanya, suara serak, tapi gak ngangkat senjatanya."Kami penyintas," jawabku pelan, parang masih di tangan. "Cuma lewat, nyari tempat istirahat."Dia ngangguk, terus masuk gitu aja tanpa minta izin, duduk di salah satu kursi yang masih utuh, kayak ini emang kursinya dari dulu. Kami saling liat, gak yakin harus ngapain."Namaku Roy," katanya akhirnya, gak natap kami. "Aku juga penyintas. Kayak kalian.""Kau sendirian?" tanya Hendra, curiga.Roy ketawa kecil, tapi gak ada humor di suaranya. "Kalau aku gak sendirian, aku gak bakal di sini."Sebelum aku sempet
Read more