Malam yang gelap dan menekan berat di atas atap-atap bersusun serta balok ukiran kediaman Keluarga Gutawa, seolah-olah hendak menelan seluruh denyut kehidupan. Di dalam halaman, hanya terdengar suara angin bertiup di antara koridor-koridor sunyi dan menambah kesan hening yang mematikan.Saat duduk sendirian di bawah lampu tunggal yang cahayanya bergoyang-goyang, ujung jari Andini tanpa sadar mengusap sebuah jarum perak yang dingin. Namun, sentuhan dingin itu juga tidak mampu menenangkan pikirannya yang kacau.Racun Belenggu Tulang di tubuh Rangga, Rinun yang dikurung Paviliun Tafakur, dan perjalanan ke wilayah terlarang di malam bulan purnama besok. Semua itu mengacaukan pikiran Andini dan membuatnya terus gelisah.Saat itu, tiba-tiba terdengar suara serak dan rendah Soekarno dari sudut yang gelap. "Kepala Lembah, ada pergerakan di luar halaman. Dari posturnya, sepertinya itu Ikhsanun."Ikhsanun?Apa yang diinginkan Ikhsanun?Andini tiba-tiba menyipitkan matanya, lalu langsung menggeng
Read more