Andini menunduk, menatap kunci kuningan kecil di telapak tangannya, lalu memandang Ikhsanun yang berlutut di lantai, menanggalkan seluruh harga diri hanya demi memohon secercah harapan hidup bagi adiknya. Entah mengapa, bayangan Abimana tiba-tiba terlintas di benaknya.Dia menarik napas dalam-dalam. Udara dingin mengalir masuk ke paru-parunya. Pada akhirnya, dia mengambil keputusan."Bangun." Suara Andini tetap dingin, seolah-olah diselimuti lapisan embun tipis, tetapi tidak lagi sedingin penolakan mutlak. Di dalamnya terkandung keputusan yang tak terbantahkan. "Aku akan pergi."Demi Rinun dan juga demi rencana esok hari, dia harus menempuh perjalanan ini.Malam kian larut, embun kian pekat, segala bunyi mereda. Seluruh Kediaman Gutawa seolah-olah tenggelam dalam air mati. Hanya ada suara angin yang berdesir, laksana tangisan arwah penuh keluh kesah.Dalam perlindungan tanpa suara dari Soekarno, sosok Andini bagai segumpal asap ringan di tengah malam. Dia dengan cekatan menghindari sel
Read more