Suara dengung itu kembali hadir, merambat pelan dari sudut mimpi yang paling gelap. Awalnya samar, seperti bisikan angin yang menelusup di antara celah-celah kesunyian, lalu semakin jelas, semakin menusuk, hingga memenuhi ruang tak bernama di dalam kepalanya. Bukan sekadar dengung sayap Vespa mandarinia yang bergetar tajam, melainkan juga gema suara Daren—suara yang berlapis-lapis, berulang-ulang, seakan tak pernah berhenti. Setiap lapisan suara itu memantul, beradu, dan bergaung, seperti gema yang terjebak di ruang hampa tanpa dinding, tanpa batas, hanya berputar-putar di lingkaran tak berujung.“Kau tahu kenapa aku memilih dia, Ayesha?” suara itu terdengar samar, seolah datang dari balik kaca laboratorium, “karena kekuasaan bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang bisa mengendalikan yang lain.” Ayesha tersentak, terbangun dengan teriakan tertahan. Tubuhnya berkeringat, napasnya memburu. Ruangan laboratorium bawah tanah itu gelap, hanya diterangi cahaya biru redup dar
Last Updated : 2025-11-17 Read more