"Nggak perlu?"Zahra menatapnya dengan agak heran. "Nggak sakit?"Arya menggeleng. "Nggak.""Ya sudah, terserah kamu."Setelah itu, Zahra tidak lagi memandangnya. Dia mengambil kuas, lalu melanjutkan menelaah dokumen.Arya menatap wajahnya yang serius. Hatinya diliputi gelombang demi gelombang kelembutan. Andai saja Zahra bukan maharani, andai saja Zahra punya lebih banyak waktu, alangkah baiknya.Saat ini, Arya tiba-tiba mengerti, kenapa Kaisar ingin menyerahkan takhta kepada Zahra secepat mungkin. Orang-orang yang benar-benar saling mencintai ingin bersama setiap detik.Jika Ishaq menikah, jika Ishaq menjadi kaisar, dirinya hanya akan menjadi pendamping putri. Lalu, apa pun yang ingin mereka lakukan, ke mana pun mereka ingin pergi, bukankah semuanya akan jauh lebih mudah?Empat jam kemudian, Zahra selesai menelaah dokumen. Hari juga sudah senja. Zahra meregangkan tubuhnya. Arya segera meletakkan buku di tangan dan bertanya, "Capek?"Zahra berdiri, berjalan ke sisinya, dengan inisiati
Read more