Arya tertegun sejenak.Zahra menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimanapun juga, kamu yang menikah denganku. Aku nggak boleh memperlakukanmu dengan semena-mena. Mas kawin apa yang kamu inginkan?"Dia mengulanginya sekali lagi.Setelah mendengar dengan jelas, meskipun belakangan ini Arya sudah cukup tebal muka dan berani, wajahnya tetap memerah sampai ke ujung telinga.Dia melangkah maju, tidak menunggu Zahra.Zahra segera mengejar. "Arya, Arya, jadi kamu mau menikah atau nggak? Kalau kamu nggak mau menikah, aku akan bilang ke Ibunda ....""Putri Mahkota!" Arya berbalik, merasa kesal sekaligus geli.Bukan hanya Ando, Titiek, dan Puspa, para pelayan lain di Istana Abadi pasti juga mendengarnya, meskipun sibuk dengan urusan masing-masing.Arya merasa wajahnya panas membara. "Putri Mahkota, jangan teriak-teriak."Zahra tiba-tiba menjadi usil. "Kamu malu?"Arya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Dia pun mengambil langkah besar ke arah Zahra, lalu menariknya. Zahra masih hendak berteriak, jadi
Baca selengkapnya