Rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Tawa mengisi ruang tamu. Piring kecil berisi kue dan teh hangat berpindah tangan. Ucapan “Alhamdulillah” terdengar berkali-kali, seperti doa yang diulang agar benar-benar nyata. Flora duduk di sofa panjang, bantal kecil di pangkuannya. Tangannya belum lepas dari genggaman Birru sejak tadi. Sesekali ia tersenyum, menerima pelukan, ucapan selamat, doa-doa yang menghangatkan. Lia yang paling bersinar wajahnya. “Cucu… akhirnya,” ucapnya, matanya berkaca-kaca. Tangannya tak henti menyentuh lengan Flora, seolah memastikan ini bukan mimpi. Mama Flora duduk di sisi lain, lebih tenang, tapi sorot matanya lembut penuh syukur. Awalnya, semuanya terasa ringan. Hingga percakapan itu datang seperti hujan kecil yang tak diundang. “Jadi sekarang Flora bisa fokus ya di rumah,” kata Lia, nadanya terdengar biasa saja, tapi kalimat itu membuat udara berubah tipis. “Sudah hamil begini, jangan capek-capek kerja lagi. Resign saja.
Read more