Menemukan Cinta Kembali

Menemukan Cinta Kembali

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Oleh:  RieyukhaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
60Bab
2.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Birru dan Flora tumbuh bersama, saling menyayangi seperti kakak dan adik. Namun, takdir membawa mereka pada jalan yang tak pernah mereka bayangkan. Ketika ibu Birru, yang sedang sakit, memohon agar Birru menikahi Flora, ia merasa tertekan untuk memenuhi permintaan itu. Meskipun hatinya tak siap, Birru setuju demi kebahagiaan ibunya. Pernikahan yang dipaksakan itu membawa perubahan besar dalam hubungan mereka. Birru yang dulunya penuh perhatian kini bersikap dingin dan acuh terhadap Flora. Kata-kata yang melukai dan sikap yang berubah membuat Flora merasa tersisih dan terluka. Namun, di tengah luka dan ketegangan, mereka perlahan mulai menyadari bahwa sayang yang dulu pernah ada mungkin masih bisa ditemukan. Perjalanan ini tentang menemukan kembali ikatan yang hilang, mengatasi luka, dan menciptakan kembali perasaan yang murni di antara mereka. Bisakah mereka mengubah rasa sayang yang tersisa menjadi cinta sejati?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Saat Riki mendekatkan wajahnya pada Flora, jantung Flora berdegup kencang. Ia menahan napas, memejamkan matanya, sadar sepenuhnya apa yang akan dilakukan Riki. Namun, sebelum segalanya terjadi, suara berat seorang pria memecah suasana.

"Apa-apaan ini!"

Flora membuka matanya dengan cepat, terkejut mendapati Birru—gurunya—sudah berdiri di hadapan mereka. Dengan satu gerakan, Birru menarik kerah baju Riki, menjauhkan pemuda itu dari Flora.

"Nggak ngapa-ngapain, Pak!" sergah Riki dengan nada panik, mencoba membela diri.

Flora hanya diam, menelan ludah dengan gugup. Ia merasa panik, tetapi berusaha untuk tetap tenang.

Birru menatap mereka berdua dengan tajam. Suaranya tegas penuh wibawa.

"Ini sekolah, tempat menuntut ilmu, bukan tempat untuk perbuatan tidak senonoh."

Wajah Riki memerah. Ia mengangguk, tak berani melawan.

"Pulang! Besok kalian berdua menghadap saya di ruang guru. Kalau tidak, saya akan laporkan ini ke kepala sekolah dan orang tua kalian!" ancam Birru tanpa kompromi.

"Iya, Pak," jawab Riki lemah, lalu melirik Flora sekilas sebelum pergi.

Saat Flora hendak menyusul, Birru dengan cepat menangkap lengannya, menghentikan langkahnya. Tatapannya tajam, seperti menusuk langsung ke dalam hati Flora.

"Ke ruangan sekarang!" perintahnya dengan nada dingin yang tak bisa dibantah.

Flora hanya bisa mengikuti langkah Birru menuju ruangannya. Sekolah sudah sepi karena jam pulang sekolah sudah lewat sejak satu jam yang lalu. Sepanjang koridor yang sunyi, hanya terdengar langkah mereka.

Begitu sampai di ruangan dan pintu tertutup rapat, Birru memutar tubuhnya, menatap Flora tajam.

"Apa maksud lu? Lu tau dia mau ngapain?" tanya Birru langsung begitu mereka berada di dalam ruangan, suaranya dipenuhi rasa marah dan bingung.

"Tau," jawab Flora dengan nada santai, tampak tidak terpengaruh.

"Terus, lu diam aja?" tanya Birru, terkejut dan tidak percaya dengan sikap Flora.

"Loh, memang kenapa? Nggak suka? Atau... cemburu?" tantang Flora, suaranya penuh nada kesal, meskipun ia tetap santai.

Birru menghela napas panjang, kesal dengan sikap Flora. Ia kemudian meraih bahu Flora dengan kuat, menatapnya tajam.

"Cemburu? Sama anak ingusan yang cuma tahu nongkrong dan nyusahin orang tua? Ngaca, Flo!" kata Birru sinis.

Dada Flora terasa sesak dan panas, merasa dihina. Ia menatap Birru dengan tatapan tajam, ingin melawan. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Birru kembali bersuara.

"Kalau bukan karena status lu sebagai istri gue, terserah lu mau ngapain, gue nggak peduli!"

Flora merasa terbakar oleh kata-kata Birru. Ia menepis tangan Birru yang masih memegang bahunya, marah.

"Nggak usah sok peduli lu!" serunya dengan kesal. "Di sekolah ini, nggak ada yang tahu kalau kita suami istri. Lagian, laki-laki gila mana yang mau nikahi anak sekolah? Lu!" kata Flora, sambil menuding dada Birru dengan geram.

Birru terdiam, mulutnya terbuka seakan ingin berkata sesuatu, tetapi tak ada kata yang keluar. Ia hanya diam, mematung, menatap Flora yang kini sudah berbalik meninggalkan ruangan.

*

"Mana?" Adel mengulurkan tangannya dengan senyum lebar yang penuh kemenangan.

"Udah gue bilang, jangan di sekolah," Dara melontarkan peringatan yang sudah tidak asing lagi, tapi Flora tetap saja mengabaikannya.

Flora mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku seragamnya dan memberikannya kepada Adel dan Dara dengan ekspresi kesal yang jelas terlihat di wajahnya.

"Padahal, sedikit lagi tuh bibir lu bakal dibuka segel sama Riki," ujar Adel dengan nada penuh canda sambil menyimpan uang taruhannya.

"Sesuai taruhan, kan? Lu yang bayar semua ini, Flo," Dara mengingatkan sambil menunjuk ke meja yang penuh dengan makanan dan minuman.

"Bungkus sekalian!" jawab Flora dengan nada acuh tak acuh, meskipun jelas sekali kesal.

Adel dan Dara tertawa ringan mendengar jawabannya. "Nggak dong, kan sesuai taruhan," kata Dara dengan santai.

Namun, yang sebenarnya membuat Flora kesal bukan soal kalah taruhan. Itu hanya pemicunya. Yang benar-benar menghancurkan suasana hatinya adalah sikap dan kata-kata Birru yang masih terngiang di telinganya.

"Heran gue, Pak Birru bisa tahu kalau masih ada murid di sekolah? Padahal tempat lu sama Riki udah aman banget, loh," Adel berkata dengan nada bingung.

Flora tetap diam, karena begitu mendengar nama Birru, rasa bencinya langsung membuncah, seperti ada api yang mulai menyala di dalam dirinya.

"Astaga, kalian masih di luar dengan seragam sekolah?" suara tegas itu membuat ketiga pelajar itu langsung terkejut. Birru, guru mereka berdiri tepat di depan mereka, tatapannya tajam dan penuh kewibawaan.

Mereka saling bertukar pandang, bingung. Jam sekolah memang sudah berakhir, dan mereka merasa tidak ada yang salah dengan duduk santai setelah jam pulang. Lagi pula, mereka bukan sedang bolos.

"Kan udah jam pulang, Pak," Dara mencoba membela diri dengan alasan yang cukup masuk akal, yang langsung didukung dengan anggukan Adel. Sementara itu, Flora hanya diam, menyembunyikan ekspresi kesalnya.

"Betul, tapi bukan berarti kalian boleh tetap bebas kesana kemari dengan seragam sekolah," jawab Birru datar. "Pulang, sebentar lagi gelap," tambahnya, seolah tidak peduli dengan apapun yang akan mereka katakan lagi.

"Iya, Pak," jawab Adel dan Dara hampir bersamaan, segera berdiri dan mulai beranjak dari tempat mereka.

"Flo, ayo..." bisik Adel, sambil menyentuh lengan Flora dengan lembut, lalu melirik ke arah Birru yang masih berdiri di sana.

"Gue pulang dengan taksi online aja, ini lagi mau order," jawab Flora, sambil menunjukkan aplikasi di ponselnya yang sedang terbuka.

"Oke deh, gue duluan ya," ujar Adel sambil melambaikan tangan. Ia menoleh pada Birru, "Pamit, Pak," katanya, yang hanya disambut dengan anggukan acuh tak acuh dari Birru.

"Bye, Flo! Kabarin kita kalau udah sampai rumah, ya!" seru Dara ceria, lalu segera menyusul Adel keluar dari kafe.

Setelah kedua temannya menghilang dari pandangan, Birru akhirnya duduk di hadapan Flora.

"See, nongkrong sampai lupa waktu," sindirnya dengan nada sinis, sementara Flora hanya diam, menatap ke luar jendela kafe dengan ekspresi jutek yang jelas terlihat di wajahnya.

"Ayo pulang," titahnya kemudian, seraya memegang lengan Flora. Namun, Flora langsung menepisnya dengan kesal.

"Nggak usah pegang-pegang!" ujarnya dengan nada sinis.

"Nggak usah kepedean lah, Flo. Gue nggak minat buat pegang lu," balas Birru dengan senyum mengejek, yang justru membuat Flora semakin kesal dan menambah kebenciannya pada pria itu.

Dengan langkah cepat dan kesal, Flora beranjak menuju kasir membayar segala traktiran taruhannya, lalu mengikuti langkah Birru yang sudah menuju parkiran.

Di sudut kafe yang tersembunyi dari pandangan para pengunjung, dua gadis berseragam sedang mengamati dengan cermat.

"Tuh kan, gue udah bilang, ada yang aneh antara Flora sama Pak Birru," bisik Adel, menatap ke arah mereka.

"Mereka pacaran?" tanya Dara dengan penasaran.

Adel mengangkat bahu, tidak yakin. "Gue nggak yakin, deh. Sikap Flo yang cuek kayak gitu malah nggak kelihatan kayak dia pacaran. Tapi entahlah..." jawab Adel ragu, sambil matanya terus mengikuti mobil yang ditumpangi Flora menghilang dari pandangan mereka.

***

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

namanya
namanya
ceritanya bagus. kenapa ga dilanjut?
2025-08-14 20:03:15
1
0
60 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status