Tanganku terulur, berusaha menarik bantal lebih dekat ke sisi tubuhku yang kini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Tapi bukan bantal empuk yang kudapat, melainkan lengan kekar Lucian yang membentang kaku, menahan napasku seketika saat dia bergumam setengah sadar, “Butuh apa lagi, hm? Aku sudah siap jadi asisten pribadi, pengawal, dan koki profesionalmu hari ini.” Aku tertawa lirih, menepuk dadanya pelan. “Aku cuma butuh tempat nyender, bukan daftar CV suami sendiri.” Lucian membuka mata sepenuhnya dan menggeliat pelan, lalu menatapku penuh kasih. Matanya terlihat sedikit lelah, tapi tetap menyimpan kehangatan. “Kau tahu, kalau kau ingin, aku bisa ambil cuti panjang. Bahkan pensiun dini juga bisa. Asal kamu dan bayi kita tetap nyaman.” Aku mencubit perutnya, yang walau tak berotot segila dulu, masih menyebalkan untuk disentuh karena tetap kencang. “Jangan drama. Kamu lebih butuh kerja daripada aku butuh cuti.” Dia tertaw
続きを読む