"Adit... apa itu tadi?"Suara Renata terdengar parau, sisa-sisa kantuk masih menggelayut di ujung lidahnya. Namun, sepasang matanya sudah terbuka sempurna, terjaga oleh alarm bahaya yang tiba-tiba berdering di kepalanya. Ia langsung duduk tegak di atas ranjang, membiarkan selimut sutranya merosot begitu saja dari bahu. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu kamar, terpaku pada rasa tidak nyaman yang mendadak merayapi tengkuknya.Di dekat jendela, Adit sudah berdiri tegak."Ada tamu tak diundang di depan sana," jawab Adit pendek. Tangannya bergerak cepat menyambar kaos dan celananya yang tersampir di sandaran kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat, namun sama sekali tidak menyiratkan kepanikan. "Kak Ren, tetap di sini.""Tapi, suara apa yang…""Akan aku periksa," potong Adit cepat, memangkas kalimat Renata. Ia menoleh sekilas, memastikan tatapan mereka bertemu. "Tapi tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana. Pakai bajumu, dan pegang pistolmu!"Renata menelan ludah, lalu mengangguk pela
Last Updated : 2026-05-18 Read more