Adit menggeser posisinya, berlutut tepat di samping pinggul Renata yang masih berbaring telungkup. Suasana kamar itu kini terasa begitu kedap, seolah-olah dinding beton markas ini mampu meredam seluruh hiruk-pikuk dunia luar, menyisakan hanya suara napas mereka yang mulai saling berkejaran.Adit meletakkan kedua telapak tangannya di punggung bawah Renata, tepat di atas batas pakaian dalamnya. Ia tidak langsung bergerak; ia memulainya dengan memejamkan mata, memusatkan seluruh fokus pada titik di tengah dadanya, memanggil aliran hangat yang sudah menjadi bagian dari kutukan sekaligus anugerahnya itu.Perlahan, suhu di telapak tangan Adit meningkat, bukan panas yang membakar, melainkan kehangatan yang menjalar seperti madu cair yang meresap ke dalam serat otot.Saat jemarinya mulai melakukan gerakan melingkar yang sinkron, Renata memberikan reaksi instan; punggungnya melengkung sedikit, kepalanya terbenam lebih dalam ke bantal, dan sebuah lenguhan tertahan lolos dari bibirnya, menandaka
Last Updated : 2026-05-03 Read more