Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan uap hangat ke seluruh ruangan. Yara melangkah keluar dengan piyama satin berwarna dusty rose yang lembut, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa sedikit canggung. Di luar dugaan, pemandangan yang menyambutnya bukanlah Nathan yang sedang sibuk dengan ponsel atau dokumen kerja, melainkan Nathan yang sudah mengenakan piyama pria berwarna biru tua, duduk santai di sisi ranjang. Pria itu tampak jauh lebih manusiawi, jauh dari kesan kaku yang biasanya melekat pada sosok miliarder angkuh."Sini," ucap Nathan singkat, menepuk ruang kosong di sampingnya.Yara mendekat seperti anak kecil yang tertangkap basah bermain hujan—malu-malu namun penasaran. "Duduk," perintah Nathan lagi, kali ini nada suaranya lembut, tidak ada perintah mutlak yang biasa ia gunakan.Yara duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba, Nathan mengambil sebuah hairdryer dari atas nakas. Yara tertegun. "A-apa yang kau lakukan?""Rambutmu masih basah. Nanti kau sakit kalau tidur dengan rambut seper
Read more