LOGINDatang ke pesta hanya untuk pekerjaan sambilan, Yara tak pernah menyangka satu kebohongan kecil akan mengubah hidupnya. Demi menjaga harga diri di hadapan musuh lamanya, ia asal tunjuk pria asing dan mengaku sebagai pacarnya. Masalahnya, pria itu bukan orang biasa. Nathan Liu—pewaris dingin dari keluarga konglomerat—bukan hanya menerima akting gila Yara, tapi juga menawarinya kontrak cinta bernilai miliaran. Awalnya terlihat seperti keberuntungan, sampai Yara tahu satu hal: Nathan sudah menikah. Kini, Yara terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan cinta palsu, rahasia kelam, dan sebuah keluarga yang tak segan menghancurkan apa pun... termasuk dirinya.
View MoreYara Jang menatap jendela taksi yang berembun, perutnya terasa seperti diikat kencang. Lampu-lampu kota memantul di kaca, mengiringi perjalanannya menuju hotel mewah yang menjulang megah di kejauhan.
"Yara, kamu bisa!" suara di kursi belakang menyemangatinya.
Yara menoleh ke Giselle, kenalan barunya dari aplikasi, yang memberinya tugas absurd malam ini—menghadiri pesta sebagai dirinya.
"Ingat, kamu cuma absen doang. Masuk, kasih undangan, terus bebas deh. Jangan lupa makan enak ya!" Giselle terkikik.
"Kalau makanannya enak, aku akan mengingatmu seumur hidup," sahut Yara, setengah bercanda, setengah gugup.
Taksi berhenti. Udara malam yang sejuk tak cukup untuk menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. Dengan napas panjang, Yara menyesuaikan gaun hitam selutut yang disewanya dengan harga yang bikin sakit kepala.
"Ini cuma pesta. Bukan medan perang. Senyum, makan, pulang. Gampang, kan?" bisiknya menyemangati diri sendiri sebelum melangkah masuk.
Aroma makanan langsung menyambutnya, menusuk hidung dan perut kosongnya dengan godaan yang tak bisa ditolak.
Makanan! Makanan! Makanan!
Tanpa ragu, Yara mengambil piring dan mulai menumpuknya dengan segala kelezatan yang bisa dijangkau tangannya—daging panggang, kue-kue kecil, salad yang tampak mahal. Matanya berbinar, bibirnya membentuk senyum puas.
"Kapan lagi aku bisa makan makanan seenak ini," kikiknya dalam hati.
Namun, kenikmatan itu terhenti seketika saat suara tawa familiar menyusup ke telinganya.
"Yara Jang?"
Suara itu merambat ke tulang belakangnya seperti es dingin. Perlahan, Yara menoleh.
Tiga wanita berdiri di belakangnya, mengenakan gaun mahal dengan ekspresi yang membuat perutnya terasa mual. Gadis-gadis dari masa lalu, teman semasa Yara sekolah.
"Seriusan? Ini kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Salah satu dari mereka, dengan gaun hijau mint dan nada merendahkan, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Hah? Aku kira dia udah nggak di kota ini," bisik yang lain, cukup keras untuk didengar.
"Oh, dia ada di sini. Dan lihat, dia sedang ..., ah, menikmati 'makanan gratis'." Tatapan mereka jatuh ke piring Yara yang penuh.
Tawa meledak. Mereka semua sepertinya sangat menikmati pemandangan itu.
Yara menggenggam piringnya lebih erat, jari-jarinya memutih. Ia bisa merasakan panas menjalar ke pipinya.
Mereka tidak berhenti. Seperti sudah menunggu sangat lama untuk mengejek Yara.
"Untuk sekelas kamu, bisa masuk ke pesta mewah gini pasti karena bawa majikan, ya kan?"
"Iya, atau mungkin jadi ..., pelayan katering?"
Gelak tawa mereka seperti cambukan di wajah Yara. Sekitar mereka, tamu lain mulai melirik. Ada yang berbisik, ada yang menatapnya dengan tatapan kasihan—atau mungkin jijik.
Yara ingin bicara, ingin mengatakan sesuatu—apa pun! Tapi lidahnya terasa kaku.
"Oke, serius deh. Kamu datang ke sini sebagai apa? Orang sepertimu mana mungkin bisa masuk ke pesta ini." Nada mereka berubah lebih tajam, lebih menusuk.
Panik, Yara menarik napas cepat. Jangan sampai mereka tahu aku cuma pengganti!
"A-aku datang ke sini ..., sama pacarku," jawabnya spontan.
Hening. Lalu, tawa mereka pecah lagi—lebih keras, lebih menghina.
"Pacar?"
"Yara, serius? Kamu? Punya pacar? Apalagi pacar yang cukup kaya buat ngajak kamu ke pesta kayak gini?"
Malu. Panas. Rasanya ingin menghilang saat itu juga.
Lalu, dari sudut matanya, Yara melihat seorang pria berdiri tak jauh dari mereka. Elegan, tampan, dengan segelas champagne di tangannya.
Tanpa pikir panjang, dia melangkah cepat dan—
Plak!
Tangan Yara mendarat di bahu pria itu. Semua mata tertuju padanya.
"Eh, kamu! Iya, kamu!" Suara Yara lebih keras dari yang diinginkan. "Kenalin, ini pacar aku!"
Suasana hening. Pria itu menoleh, menatapnya dengan alis terangkat dan wajah dingin.
Yara menelan ludah. "Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan?!"
Malam yang dinanti—atau lebih tepatnya, malam yang ditakuti Yara—akhirnya tiba. Di dalam pantulan kaca mobil yang melaju membelah dinginnya London, Yara nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajah yang dipoles oleh penata rias profesional pilihan Nathan sejak sore tadi benar-benar mengubahnya. Ia terlihat elegan, mahal, namun ada aura sensualitas yang memancar dari gaun ungu tua yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.Yara tidak berhenti memainkan kuku jarinya. Ia menunduk, menatap nail art yang baru saja selesai dipoles dengan warna senada dengan gaunnya. Kegugupan itu nyata, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk ujung jarinya.Nathan, yang sejak tadi duduk diam sambil menatap layar ponsel di sampingnya, akhirnya mengalihkan pandangan. Ia melirik Yara, memperhatikan bagaimana bahu wanita itu tampak tegang."Gugup?" suara Nathan rendah, memecah kesunyian di dalam kabin mobil.Yara tidak menoleh. Ia tetap menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang mengabur karena
Lampu meja kerja yang terang menyinari butiran debu yang menari di atas layar tablet milik Clara. Ia sedang berada di dunianya sendiri, sebuah pelarian yang ia bangun dengan garis, warna, dan tekstur kain.Jemarinya yang ramping menggerakkan pena digital dengan lincah, mencoba menyelesaikan desain gaun utama untuk fashion show yang akan digelar beberapa bulan lagi. Di balik kacamata berbingkai tipis itu, mata Clara terlihat merah karena kelelahan, namun ia terus memaksakan fokusnya.Hanya di sini, dalam goresan sketsa, Clara merasa memiliki kontrol penuh atas hidupnya.Namun, kendali itu hancur seketika saat ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama "Mama" muncul di layar, seperti sebuah vonis yang tak bisa dihindari. Clara menghela napas panjang, menekan tombol hijau dengan enggan tanpa mengalihkan pandangan dari desainnya."Ya, Ma?" suara Clara terdengar datar, nyaris tak bernyawa."Clara! Kau sudah mendapatkan undangannya, bukan? Pesta topeng malam ini. Kau harus hadir di sana bersa
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Adrian berhenti dengan halus tepat di depan sebuah butik megah dengan fasad kaca tinggi di kawasan elit London. Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Nathan dengan sikap profesional yang tak cela. Adrian sempat melirik Yara sekilas, memberikan senyum tipis yang sopan—sebuah gestur kecil yang menandakan bahwa ia tidak memiliki niat buruk, meski ia tahu persis posisi Yara dalam drama keluarga Liu ini.Nathan melangkah turun, diikuti Yara yang masih merasa sedikit gamang. Ia menatap papan nama butik yang tertulis dengan huruf emas timbul. Ia tahu tempat ini; hanya orang-orang dengan gelar bangsawan atau saldo bank tak terbatas yang bisa menginjakkan kaki di sini."Apa ini tidak terlalu berlebihan?" bisik Yara sambil merapatkan mantelnya, merasa kecil di bawah bayangan kemegahan butik tersebut.Nathan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Yara, menautkan jemari mereka dengan erat, lalu membawanya masuk. Begitu
Pagi itu, London masih diselimuti sisa hujan semalam, namun suasana di dalam kamar apartemen terasa jauh lebih hangat. Cahaya matahari yang masuk malu-malu melalui celah gorden menyinari sosok pria yang masih terlelap di samping Yara.Yara terjaga lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan terdiam dalam posisi miring, menatap wajah Nathan dari jarak yang sangat dekat. Nathan tidur dengan tenang, tubuh bagian atasnya yang atletis tidak tertutup sehelai benang pun, memamerkan otot-otot dada dan lengan yang keras namun tampak nyaman sebagai bantal. Napasnya teratur, menyapu permukaan kulit Yara setiap kali pria itu mengembuskan napas.Yara menatap wajah itu cukup lama. Anehnya, tidak ada lagi kepanikan luar biasa seperti saat pertama kali mereka terlibat dalam kontrak ini. Apakah dia sudah terbiasa? Atau mungkin, benteng pertahanannya sudah mulai retak?Tanpa sadar, jemari Yara bergerak pelan, menyentuh pipi Nathan yang sedikit kasar karena bayangan kumis tipis yang mulai tumbuh.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.