LOGINFollow me on IG: @sizuniilee Datang ke pesta hanya untuk pekerjaan sambilan, Yara tak pernah menyangka satu kebohongan kecil akan mengubah hidupnya. Demi menjaga harga diri di hadapan musuh lamanya, ia asal tunjuk pria asing dan mengaku sebagai pacarnya. Masalahnya, pria itu bukan orang biasa. Nathan Liu—pewaris dingin dari keluarga konglomerat—bukan hanya menerima akting gila Yara, tapi juga menawarinya kontrak cinta bernilai miliaran. Awalnya terlihat seperti keberuntungan, sampai Yara tahu satu hal: Nathan sudah menikah. Kini, Yara terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan cinta palsu, rahasia kelam, dan sebuah keluarga yang tak segan menghancurkan apa pun... termasuk dirinya.
View MoreYara Jang menatap jendela taksi yang berembun, perutnya terasa seperti diikat kencang. Lampu-lampu kota memantul di kaca, mengiringi perjalanannya menuju hotel mewah yang menjulang megah di kejauhan.
"Yara, kamu bisa!" suara di kursi belakang menyemangatinya.
Yara menoleh ke Giselle, kenalan barunya dari aplikasi, yang memberinya tugas absurd malam ini—menghadiri pesta sebagai dirinya.
"Ingat, kamu cuma absen doang. Masuk, kasih undangan, terus bebas deh. Jangan lupa makan enak ya!" Giselle terkikik.
"Kalau makanannya enak, aku akan mengingatmu seumur hidup," sahut Yara, setengah bercanda, setengah gugup.
Taksi berhenti. Udara malam yang sejuk tak cukup untuk menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. Dengan napas panjang, Yara menyesuaikan gaun hitam selutut yang disewanya dengan harga yang bikin sakit kepala.
"Ini cuma pesta. Bukan medan perang. Senyum, makan, pulang. Gampang, kan?" bisiknya menyemangati diri sendiri sebelum melangkah masuk.
Aroma makanan langsung menyambutnya, menusuk hidung dan perut kosongnya dengan godaan yang tak bisa ditolak.
Makanan! Makanan! Makanan!
Tanpa ragu, Yara mengambil piring dan mulai menumpuknya dengan segala kelezatan yang bisa dijangkau tangannya—daging panggang, kue-kue kecil, salad yang tampak mahal. Matanya berbinar, bibirnya membentuk senyum puas.
"Kapan lagi aku bisa makan makanan seenak ini," kikiknya dalam hati.
Namun, kenikmatan itu terhenti seketika saat suara tawa familiar menyusup ke telinganya.
"Yara Jang?"
Suara itu merambat ke tulang belakangnya seperti es dingin. Perlahan, Yara menoleh.
Tiga wanita berdiri di belakangnya, mengenakan gaun mahal dengan ekspresi yang membuat perutnya terasa mual. Gadis-gadis dari masa lalu, teman semasa Yara sekolah.
"Seriusan? Ini kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Salah satu dari mereka, dengan gaun hijau mint dan nada merendahkan, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Hah? Aku kira dia udah nggak di kota ini," bisik yang lain, cukup keras untuk didengar.
"Oh, dia ada di sini. Dan lihat, dia sedang ..., ah, menikmati 'makanan gratis'." Tatapan mereka jatuh ke piring Yara yang penuh.
Tawa meledak. Mereka semua sepertinya sangat menikmati pemandangan itu.
Yara menggenggam piringnya lebih erat, jari-jarinya memutih. Ia bisa merasakan panas menjalar ke pipinya.
Mereka tidak berhenti. Seperti sudah menunggu sangat lama untuk mengejek Yara.
"Untuk sekelas kamu, bisa masuk ke pesta mewah gini pasti karena bawa majikan, ya kan?"
"Iya, atau mungkin jadi ..., pelayan katering?"
Gelak tawa mereka seperti cambukan di wajah Yara. Sekitar mereka, tamu lain mulai melirik. Ada yang berbisik, ada yang menatapnya dengan tatapan kasihan—atau mungkin jijik.
Yara ingin bicara, ingin mengatakan sesuatu—apa pun! Tapi lidahnya terasa kaku.
"Oke, serius deh. Kamu datang ke sini sebagai apa? Orang sepertimu mana mungkin bisa masuk ke pesta ini." Nada mereka berubah lebih tajam, lebih menusuk.
Panik, Yara menarik napas cepat. Jangan sampai mereka tahu aku cuma pengganti!
"A-aku datang ke sini ..., sama pacarku," jawabnya spontan.
Hening. Lalu, tawa mereka pecah lagi—lebih keras, lebih menghina.
"Pacar?"
"Yara, serius? Kamu? Punya pacar? Apalagi pacar yang cukup kaya buat ngajak kamu ke pesta kayak gini?"
Malu. Panas. Rasanya ingin menghilang saat itu juga.
Lalu, dari sudut matanya, Yara melihat seorang pria berdiri tak jauh dari mereka. Elegan, tampan, dengan segelas champagne di tangannya.
Tanpa pikir panjang, dia melangkah cepat dan—
Plak!
Tangan Yara mendarat di bahu pria itu. Semua mata tertuju padanya.
"Eh, kamu! Iya, kamu!" Suara Yara lebih keras dari yang diinginkan. "Kenalin, ini pacar aku!"
Suasana hening. Pria itu menoleh, menatapnya dengan alis terangkat dan wajah dingin.
Yara menelan ludah. "Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan?!"
Mobil sedan hitam Nathan berhenti dengan anggun di depan port-cochère sebuah hotel bintang lima yang menjadi tempat pertemuan klien besar hari ini. Di dalam kabin yang senyap, Nathan baru saja menutup sambungan telepon dengan Adrian. Wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi lapisan es setelah mendengar laporan singkat tentang kunjungan tak diundang Clara ke apartemennya tadi pagi.Ia menatap lurus ke depan, matanya tajam seperti elang yang siap menerkam, saat melihat sosok Clara berjalan turun dari mobil lain, diikuti oleh asistennya yang membawa tumpukan dokumen desain."Sudah kubilang jangan pernah menyentuh kehidupanku, Clara. Apa kau sudah lupa?" gumam Nathan dengan nada rendah yang penuh ancaman. Ia menatap punggung Clara dengan tatapan seolah sedang menatap mangsa yang siap untuk dicabik. "Mari, akan kupastikan kau ingat persis siapa dirimu di hidupku."Nathan turun dari mobil, diikuti oleh barisan staf dan asisten dari mobil-mobil di belakangnya. Mereka bergerak seperti
Pagi itu, suasana di apartemen terasa lebih ringan setelah Nathan berangkat ke kantor. Sebelum melangkah pergi, ia sempat mengecup kening Yara—sebuah gestur yang masih membuat jantung Yara berdegup kencang meski pria itu sudah menghilang di balik pintu lift. Nathan sempat berpesan bahwa ia mungkin akan pulang agak larut karena urusan audit mendadak yang harus ia selesaikan, dan Yara hanya mengangguk patuh.Yara merasa bosan. Kehidupan "simpanan" yang ia jalani ini ternyata lebih banyak diisi dengan menunggu daripada berpetualang. Ia memutuskan untuk mengeluarkan laptop yang dihadiahkan Nathan beberapa waktu lalu. Dengan secangkir smoothie dingin dan sepiring cookies cokelat di sampingnya, ia memposisikan diri di meja ruang tengah. Suasana hatinya sedang cukup baik untuk menuangkan imajinasi ke dalam naskah novel barunya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, tenggelam dalam dunia fiksi di mana ia memiliki kendali penuh atas nasib setiap karakternya.Namun, ketenangan itu terusik saat
Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan uap hangat ke seluruh ruangan. Yara melangkah keluar dengan piyama satin berwarna dusty rose yang lembut, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa sedikit canggung. Di luar dugaan, pemandangan yang menyambutnya bukanlah Nathan yang sedang sibuk dengan ponsel atau dokumen kerja, melainkan Nathan yang sudah mengenakan piyama pria berwarna biru tua, duduk santai di sisi ranjang. Pria itu tampak jauh lebih manusiawi, jauh dari kesan kaku yang biasanya melekat pada sosok miliarder angkuh."Sini," ucap Nathan singkat, menepuk ruang kosong di sampingnya.Yara mendekat seperti anak kecil yang tertangkap basah bermain hujan—malu-malu namun penasaran. "Duduk," perintah Nathan lagi, kali ini nada suaranya lembut, tidak ada perintah mutlak yang biasa ia gunakan.Yara duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba, Nathan mengambil sebuah hairdryer dari atas nakas. Yara tertegun. "A-apa yang kau lakukan?""Rambutmu masih basah. Nanti kau sakit kalau tidur dengan rambut seper
Suasana apartemen yang biasanya terasa sunyi dan dingin, kini mendadak terasa menyesakkan. Nathan melangkah lebar masuk ke dalam, menarik Yara dengan lembut namun tegas. Topeng-topeng kristal dan logam yang mereka kenakan di pesta tadi sudah dibuang begitu saja ke kursi mobil; benda-benda itu tidak lagi berguna setelah sandiwara di lantai dansa berubah menjadi tragedi kecil yang memuakkan.Nathan langsung membawa Yara ke kamar tidurnya. Ia mendudukkan wanita itu di tepi ranjang yang empuk. Gaun ungu tua yang tadi terlihat sangat mewah kini tampak menyedihkan dengan noda anggur merah yang sudah mulai mengering dan lengket."Tunggu di sini," perintah Nathan, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu."Tanpa menunggu jawaban, Nathan langsung berbalik menuju kamar mandi. Suara gemericik air yang mengisi bathtub mulai terdengar, memecah keheningan di dalam kamar.Yara terduduk diam, menatap ujung kakinya yang masih terbalut sepatu hak tinggi. Berat. Rasa
Lampu meja kerja yang terang menyinari butiran debu yang menari di atas layar tablet milik Clara. Ia sedang berada di dunianya sendiri, sebuah pelarian yang ia bangun dengan garis, warna, dan tekstur kain.Jemarinya yang ramping menggerakkan pena digital dengan lincah, mencoba menyelesaikan desain
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Adrian berhenti dengan halus tepat di depan sebuah butik megah dengan fasad kaca tinggi di kawasan elit London. Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Nathan dengan sikap profesional yang tak cela. Adrian sempat melirik Yara sekilas, memberikan senyum t
Pagi itu, London masih diselimuti sisa hujan semalam, namun suasana di dalam kamar apartemen terasa jauh lebih hangat. Cahaya matahari yang masuk malu-malu melalui celah gorden menyinari sosok pria yang masih terlelap di samping Yara.Yara terjaga lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan t
"Mhh... Nathan, geli... ahh!"Suara Yara pecah di udara ruangan yang sunyi. Setiap sentuhan ujung jari Nathan di kulit lehernya terasa seperti percikan api yang membakar sarafnya. Nathan menatap wajah Yara yang memerah di bawah temaram lampu; matanya yang sayu dan bibirnya yang sedikit terbuka memb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.