“Mommy? Kenapa marah?” Wajah Zayne bingung, membuat Tyo seketika tahu jika ia mungkin harus mengganti pertanyaannya. Mungkin tidak bisa langsung ke inti masalah. “Enggak, Mommy enggak marah,” ralat Tyo. Anggi menyela Tyo dengan memberikan satu cubitan di perut putra bungsunya. Tyo mengaduh panjang, tapi pelototan Anggi membuatnya ciut sendiri. “Tanya yang benar!” Anggi misuh-misuh. Tyo jelas kalah menghadapi sang ibu. Ia pasrah saja dimarahi, tak menyahuti omelan Anggi sama sekali. Ia malah sibuk memutar otak, menyusun pertanyaan. “Itu … Om mau tau, kalau kemarin-kemarin Zayne di rumah main apa?”Pertanyaan yang tidak berkaitan itu membuat Tyo mendapatkan tatapan tajam dari Anggi, tapi ia langsung menenangkan Anggi. Tyo punya rencana. “Main mobil-mobilan, kereta, terus baca buku,” sahut Zayne lancar. Tyo menganggukkan kepala puas. Zayne sudah masuk ke dalam alur yang ia buat. Sekarang, tinggal melanjutkannya. “Kayaknya seru, ya!” ujar Tyo dengan suara yang dibuat riang. “Zayn
Leer más