“Tania, Ibu mau bicara sama kamu.” Tubuh Tania menegang seketika. Ia baru datang, hendak menjemput Zayne bersama Rafael. Harusnya tinggal langsung berpamitan dan pulang, tapi kenapa Anggi mengajaknya bicara? “Bicara apa, Bu?” Tania sudah was-was. Seluruh kemungkinan berkelebat dalam otaknya. Wajah Anggi yang muram membuat Tania berpikir keras. Kira-kira kesalahan apa yang ia lakukan? Tak mungkin, kan?“Biar Zayne bermain dengan Rafael sebentar. Kamu ikut Ibu ke kamar.” Tania menautkan kedua tangan, lalu meremasnya lembut. Ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, berusaha keras agar tidak terlihat mencurigakan. “Kenapa enggak bicara langsung aja di sini?” Tania melirik ke arah Rafael, juga adik dan ayahnya yang masih ada di ruang tamu. Ketiganya sedang bermain bersama Zayne. “Enggak. Kamu aja. Ini masalah … perempuan.” Anggi mencoba memberi alasan.Jawaban Anggi terdengar sangat mencurigakan di telinga Tania, dan tentu ia ingin menolak. Namun, Anggi terus saja berbic
Read more