Di dalam taksi, Tania hanya melamun. Adegan demi adegan tentang apa yang terjadi di antara dirinya dan Bryan membuat ia menghela keras. Supir taksi yang menyetir sampai menoleh dan menanyakan keadaannya. “Saya baik-baik saja, Pak.” Tania memberikan senyum sekilas. Ia tiba di kantor saat jam kerja sudah selesai. Namun, Farah masih ada di sana menunggunya. “Maaf, Bu Tania. Saya sangat tidak sabar untuk mendengar kabarnya!” Farah berseru penuh semangat. Kedua mata gadis itu berbinar, menyiratkan harapan yang teramat sangat. Saat itu, Tania hanya bisa berdecih dalam hati. ‘Kabar apa?’Ia bahkan tidak benar-benar pergi ke dokter, dan semua ucapan tentang kehamilan itu hanya omong kosong. Tania hanya mengada-ada. “Maaf,” ucap Tania seraya menggeleng pelan. Ia sengaja menunduk sambil memasang wajah tertekan. Tania tak ingin menipu, tapi ia harus. Nyatanya, berbohong sangat melelahkan. “Tak apa, Bu Tani
Last Updated : 2026-02-02 Read more