Hening malam di apartemen mewah itu pecah oleh suara benda yang terhempas.Ponsel Veneza meluncur dari tangannya lalu menghantam kasur, memantul pelan sebelum terdiam.Napasnya memburu.Matanya memerah oleh kesal yang menumpuk.Tidak satu pun teleponnya diangkat Dewa.Marry, yang dari tadi memperhatikan dari meja rias, segera mendekat dengan hati-hati—seolah mendekati kaca yang hampir retak.“Ada apa, Ven?” tanyanya lembut.Veneza memegang kedua sisi wajahnya, mencoba menahan emosi yang seperti menekan dari dalam.“Dewa…” suaranya pecah. “Dari tadi aku telepon, dia sama sekali tidak angkat. Bahkan tidak baca pesanku.”Marry menarik napas pelan. “Ven… kamu lupa apa yang dia katakan semalam?”Veneza terdiam.Lama sekali.Seolah otaknya menolak mengingat.Tapi perlahan, suara itu kembali—dalam, tajam, dan dingin.Suara Dewa.~ Malam tadi. ~Di ruang tamu apartemen Veneza.Dewa berdiri tegak, kedua tangannya mengepal.Sedangkan Veneza menatapnya dengan mata penuh tuntutan, cinta yang beru
Last Updated : 2026-02-22 Read more