Dewa menoleh pada istrinya yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Sayang,” ucapnya tenang, berusaha terdengar biasa. “Aku angkat telepon sebentar, ya.”Sherine menoleh sekilas dan mengangguk. “Iya, Mas.”Ia melanjutkan langkah ke dalam ruang tamu, sementara Dewa berhenti di dekat pintu, memastikan jarak mereka cukup jauh.Ia mengangkat telepon.“Ya, Ram.”Suara Rama terdengar serius. Tidak seperti laporan biasa.“Pak… saya sudah mendapatkan data lengkap tentang Pak Jeeh.”Dewa menahan napas. “Katakan.”Ada jeda sepersekian detik.“Empat tahun lalu, Pak Jeeh menjalin hubungan serius selama kurang lebih empat tahun.”Dewa memejamkan mata sesaat. Jantungnya berdegup lebih keras.“Dengan siapa?”Suara Rama turun pelan, seolah tahu kalimat berikutnya akan mengguncang.“Dengan Ibu Sherine, Pak.”Dunia seperti berhenti bergerak.Angin yang tadi berembus kini terasa beku. Jari-jari Dewa mencengkeram ponsel lebih kuat.“Empat tahun?” ulangnya, hampir tak terdengar.“Iya, Pak. Hubungan m
Read more