MasukSherine Souad Ahlam, wanita dengan simbol kecantikan yang sempurna, memiliki darah Lebanon dan Rusia menambah kecantikannya yang tidak biasa. Sebagai supervisor di perusahaan skincare ternama, Moonsky, sekaligus influencer dengan jutaan pengikut, ia tampak memiliki segalanya. Wajah menawan, karier cemerlang, dan kehidupan glamor yang diidamkan banyak orang. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan rahasia kelam. Ia terlilit utang hampir 400 juta rupiah akibat gaya hidup borosnya. Dihantui ketakutan, ia tak berani meminta bantuan keluarganya dan memilih menanggung semuanya sendiri. Hingga di titik terendah, ketika tak ada lagi jalan keluar, sebuah tawaran datang dari pria misterius yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Solusi atas seluruh beban yang mengikatnya ada di tangan pria itu, namun dengan syarat yang tak biasa. Apakah Sherine akan menerima tawaran tersebut? Dan berapa harga yang harus ia bayar demi kebebasannya?
Lihat lebih banyakHening malam di apartemen mewah itu pecah oleh suara benda yang terhempas.Ponsel Veneza meluncur dari tangannya lalu menghantam kasur, memantul pelan sebelum terdiam.Napasnya memburu.Matanya memerah oleh kesal yang menumpuk.Tidak satu pun teleponnya diangkat Dewa.Marry, yang dari tadi memperhatikan dari meja rias, segera mendekat dengan hati-hati—seolah mendekati kaca yang hampir retak.“Ada apa, Ven?” tanyanya lembut.Veneza memegang kedua sisi wajahnya, mencoba menahan emosi yang seperti menekan dari dalam.“Dewa…” suaranya pecah. “Dari tadi aku telepon, dia sama sekali tidak angkat. Bahkan tidak baca pesanku.”Marry menarik napas pelan. “Ven… kamu lupa apa yang dia katakan semalam?”Veneza terdiam.Lama sekali.Seolah otaknya menolak mengingat.Tapi perlahan, suara itu kembali—dalam, tajam, dan dingin.Suara Dewa.~ Malam tadi. ~Di ruang tamu apartemen Veneza.Dewa berdiri tegak, kedua tangannya mengepal.Sedangkan Veneza menatapnya dengan mata penuh tuntutan, cinta yang beru
Sherine duduk di tepi ranjang, memeluk dirinya sendiri. Sejak Jeeh pergi, tiba-tiba semua terasa sepi dan sesak. Ia menatap telapak tangan kanannya—yang tadi disentuh Jeeh—seolah sentuhan itu belum pergi, seolah masih tertinggal hangatnya, menembus kulit hingga ke lubuk hatinya yang terdalam.Satu tetes air mata jatuh. Lalu satu lagi.Ia menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri takut untuk akui.“Aku sudah melupakanmu… kan?” bisiknya pada dirinya sendiri. Tapi getaran di dadanya berkata sebaliknya.Saat mereka berjabat tangan tadi… Saat Jeeh menatapnya seakan dunia berhenti berputar… Saat bibirnya bergetar menyebut ‘Sherine…’…semua luka lama terbuka kembali. Cinta yang ia kira telah mati ternyata hanya bersembunyi, masih hidup—masih sakit.Sherine menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kenapa aku masih begini…” isaknya lirih. Ia tak menyadari bahwa pintu kamar perlahan terbuka.Dewa masuk, langkahnya pelan agar tak mengagetkan istrinya. Namun begitu melihat Sher
Sherine pun sama terkejutnya. Kakinya mendadak lemas, jari-jarinya yang digenggam Dewa sedikit bergetar. Tatapannya beradu dengan Jeeh, dan dalam sekejap seluruh masa lalu yang ia kubur rapi menyeruak ke permukaan.Ada luka. Ada penyesalan. Ada cinta yang belum benar-benar mati.Bibir Jeeh terbuka, seolah ingin mengucap nama yang selama ini ia rindukan. Tapi lidahnya kelu, suaranya tak mampu keluar. Ia hanya bisa menatap… menatap wanita yang dulu ia pikir akan ia perjuangkan seumur hidupnya, kini menjadi milik orang lain—lebih parahnya, milik sepupunya sendiri.Di matanya ada air yang berkilat, tapi ia menahan mati-matian agar tidak jatuh.“Sherine…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Sherine mengalihkan pandangannya dengan cepat, menunduk, berusaha menghindari tatapan itu. Ia tahu jika ia terus menatap, seluruh benteng pertahanannya akan runtuh.Sementara Dewa tersenyum lebar, tak menyadari badai emosional yang tengah mengguncang dua hati di hadapannya. Ia masih menggenggam tangan
Keheningan itu seolah membungkus mereka dalam ruang yang tak ingin diganggu siapa pun. Dewa masih menatap dalam wajah Sherine, seakan tak ingin melewatkan satu detik pun tanpa meneguk pesona istrinya. Bibirnya baru saja menyentuh kening Sherine lagi ketika tiba-tiba getar dan dering ponsel di nakas memecah suasana.Sherine spontan menegang, menatap Dewa dengan tatapan penuh tanya. Dewa menghela napas kesal, meraih ponselnya, dan di layar jelas terpampang: Mama.Keromantisan yang baru saja mereka rajut runtuh seketika. Dewa menutup mata, sementara Sherine menarik selimutnya lebih rapat, hatinya mendadak dingin lagi. “Kenapa harus sekarang…” gumam Dewa pelan, menekan tombol hijau.Suara Thamara terdengar cerah dari seberang, “Nak, cepat turun. Jeeh sudah datang, dia menunggumu di bawah.”Dewa terdiam, menatap Sherine yang kini membelakanginya. Dewa menatap layar ponselnya dengan wajah campur aduk. Bahagia, kaget, tapi juga ada rasa tak siap. “Anak itu datang ke sini? Sekarang?” suaran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.