Yunda menghela napas panjang. Ibunya pun hanya terdiam, barangkali tak menyangka bentakan itu keluar dari mulutnya sendiri.“Biar aku yang bicara dengannya, Bu,” ujar Yunda, lalu menyusul Winda ke kamar.Dibukanya pintu perlahan. Yunda melangkah masuk dengan hati-hati. Dadanya mengencang saat melihat tubuh Winda yang terbungkus selimut, bergerak naik turun tak beraturan. Yunda yakin, adiknya sedang menangis di baliknya.Yunda paham kepindahan mereka jelas membuat impian Winda harus tertunda. Namun yang membuatnya bingung, mengapa baru sekarang ia melayangkan protes?Mereka tidak akan pergi sejauh ini jika sejak awal Winda tidak setuju.Perlahan, Yunda duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh lembut tubuh adiknya di balik selimut.“Winda,” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban. Hanya isak yang terdengar samar.Yunda menarik napas pelan, menata egonya. Menghadapi dengan kepala dingin adalah satu-satunya cara agar percakapan ini tidak kembali meledak.“Maafkan aku,” ucapnya dengan nada s
Last Updated : 2025-12-06 Read more