Suara MC terdengar halus namun menggelegar lewat pengeras suara, menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil yang santun."Wus dumugi titi wanci ... (telah tiba saatnya ....)"Awan memasuki ruangan utama pendopo. Langkahnya tegap, wajahnya bersinar namun serius. Dia mengenakan beskap, kain jarik melilit pinggangnya, dan blangkon gaya Yogyakarta yang membuatnya tampak seperti pangeran, bukan sekadar pengusaha kafe.Matanya sekilas menyapu barisan kursi VVIP di sisi kanan. Di sana, keluarganya dari Jakarta duduk dengan gelisah. Tatapan Awan dingin, menusuk, tanpa senyum sedikitpun. Dia seolah berkata," Lihat dan diamlah!"Awan terus berjalan, lalu duduk bersimpuh dengan takzim di depan meja akad yang beralaskan kain beludru hijau.Di barisan kursi tamu, jantung Putri berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya yang tertutup dress hitam.Sekarang, batin Putri, tangannya gemetar mencengkeram amplop cokelat tebal itu. Sekarang atau Mas Awan t
Terakhir Diperbarui : 2026-01-27 Baca selengkapnya