"Aku cuma mendapatkan dua pil itu." Nazar bersikeras.Tanpa disadari, semakin Nazar bersikap seperti itu, semakin Ewan merasa ada yang tidak beres.Ewan menyampirkan satu tangannya ke bahu Nazar. Sikap akrab yang tiba-tiba itu membuat Nazar sedikit panik."Bocah Kurang Ajar, kamu mau apa? Jangan-jangan kamu punya niat lain terhadapku? Aku peringatkan, aku nggak tertarik sama pria.""Jangan bicara sembarangan," kata Ewan. "Kita ini teman baik, 'kan?"Nazar mengangguk. "Iya, tapi ....""Teman baik nggak akan membohongi temannya, 'kan?" kata Ewan. "Aku tahu kamu pasti mendapatkan harta lainnya. Keluarkan dan kasih aku lihat."Nazar menggelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu berkata, "Nggak mau. Kalau kuperlihatkan ke kamu, kamu pasti akan merebutnya ....""Jadi kamu memang masih menyembunyikan harta karun. Keluarkan!" Sikap Ewan langsung berubah.Nazar sangat ingin menampar dirinya sendiri. Mulutnya memang bodoh!"Bocah, bukannya nggak boleh, tapi kita harus sepakat ya, kamu nggak boleh mere
Baca selengkapnya