"Nolan, kamu mau bantu Daddy, kan?""Mau," jawab Nolan pelan dengan suara lembut dan polos, tangannya yang kecil menepuk-nepuk punggung ayahnya."Daddy, jangan nangis.""Daddy nggak nangis… tapi mungkin bakal nangis kalau kalian ninggalin Daddy.""Kami nggak akan pergi."Fitch menghela napas lega. Saat ini, anaknya adalah satu-satunya kartu truf yang ia miliki.Ia sangat mengenal Zoey. Barusan, cara Zoey memandang Nolan—dengan tatapan begitu tulus, penuh rasa bersalah, dan luka lama—jelas menunjukkan bahwa dia merasa sangat berhutang pada anak itu.Nolan menderita autisme. Awalnya, ia hanya berani memanggil Zoey “guru”, bahkan saat demam tinggi sampai pingsan, ia tak berani bilang apa-apa. Setiap kali Zoey mengingat semua itu, rasa bersalahnya makin menumpuk.Selama rasa itu masih ada, Zoey tidak akan pergi. Ia mungkin bisa bersikap keras pada Fitch, tapi tidak pada Nolan.Fitch mengangkat tangannya, menepuk kepala Nolan dengan lembut."Ingat ya, Nolan. Nangis lebih sering. Begitu M
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-13 Mehr lesen