Nadanya tidak mengisyaratkan kelembutan. Ia membalikkan tubuh Mauryn kembali, menempatkannya telentang di bawahnya. Mata mereka saling beradu. Mata Dion berkilat dengan keinginan yang tak teredam.Dengan satu hentakan kuat, tanpa peringatan. Dion kembali menghujam masuk ke dalam liang depan Mauryn yang sudah basah, memaksakan diri hingga ke pangkal.“Aaaahhh!” Mauryn menjerit lagi.Kali ini jeritannya lebih pada kelegaan dan kenikmatan yang membanjiri dirinya. Kejantanan Dion yang begitu besar memenuhi diriya, meregangkan dinding-dinding hangatnya hingga batas mengisi setiap inci rongganya.Ia merasakan pangkal kejantanan Dion menyentuh rahimnya, sensasi yang begitu dalam dan intens, menembus inti terdalam dirinya. Dion memegang pinggulnya erat, jari-jarinya mencengkeram kulit halusnya, meninggalk
Last Updated : 2025-11-15 Read more