“Gendis, suami kamu mau usir Mama,” ucap ibu Rain dengan nada tersinggung, matanya memerah menahan emosi. “Hais...” Rain menggeleng keras, wajahnya penuh rasa heran dan lelah. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap istrinya seolah meminta pengertian. “Ma, nggak gitu, Ma. Um... Mas, jagain Bima dulu ya,” ucap Gendis lembut sambil tersenyum kecil pada suaminya, berusaha menurunkan tensi. “Iya, Sayang,” balas Rain pelan. Ia membalas senyuman itu—singkat, lemah, tapi penuh syukur—sebelum memutuskan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh sedikit pun ke arah ibunya. “Ma, ayo ke kamar aja. Udah malam gini, udah jam sepuluh. Aku temenin ya,” ucap Gendis, mencoba terdengar menenangkan. “Suami kamu tuh... omongin deh. Dia beneran kelewatan sama Mama,” ucap ibu mertuanya, nadanya penuh keluhan dan terluka. “Iya, iya... kita bahas di kamar aja ya, Mama,” ucap Gendis sambil tersenyum tipis. Ia menggandeng tangan ibu mertuanya pelan, menuntunnya pergi walau hatinya sendiri terasa ca
Last Updated : 2025-11-29 Read more