“Udah tenang, Sayang?” tanya Gendis sambil kembali memberikan ASI pada anaknya yang baru saja terbangun dari tidur. “Udah kok,” ucap Rain sambil tersenyum. Ia mendekati Gendis, mencium bibir istrinya, lalu mengecup pipi gempal anaknya itu. “Tidur lagi, deh, Sayang. Masih jam dua malam. Pagi nanti mau pulang, siap-siap bawa si gendut ini ke apartemen,” ucap Gendis sambil tersenyum menatap bayinya. “Nggak deh, saya baring aja. Nungguin kamu,” ucap Rain sambil tersenyum, lalu memeluk bantal dan menatap istri serta anaknya dengan tatapan hangat. “Tapi Mas yakin nggak mau cerita sama aku? Um?” Gendis tersenyum kecil sambil menatap Rain penuh perhatian. “Nggak deh… saya mau lupain, Sayang. Mimpinya juga nggak bener,” ucap Rain pelan sambil memeluk bantal itu lebih erat, seolah masih ada sisa rasa takut yang menempel. “Ya udah deh. Tapi kalau mau tidur, tidur aja, Sayang. Nggak apa-apa… Kamu tuh capek loh. Urus aku dari kemarin-kemarin, dari sejak aku hamil kecil sampai mau lahir
Last Updated : 2025-11-23 Read more