Toko perhiasan itu tenang, wangi vanilla lembut memenuhi udara. Cahaya kuning hangat memantul pada deretan cincin di dalam etalase kaca.Tavira berdiri di samping Darian, tangannya bersandar di lengan pria itu, matanya pelan menyusuri berbagai desain elegan, klasik, tidak terlalu mencolok.“Yang mana?” tanya Darian, menatapnya, bukan cincin-cincin itu.Tavira menunjuk cincin dengan band tipis dan berlian kecil tunggal.“Yang ini. Simple saja.”Darian mengangkat alis. “Kamu tahu aku pasti bakal kasih yang lebih besar.”“Aku nggak butuh yang besar,” Tavira tersenyum lembut. “Aku cuma butuh kamu.”Darian menatapnya lama, sorot matanya melembut.“Sampai sekarang kamu masih bisa bikin aku kehilangan kata-kata.”Ia mengambil cincin itu, menggenggam jemari Tavira, dan memasangkannya perlahan untuk mencoba. Cincin itu pas. Terlihat manis, berkilau lembut, seperti Tavira.Tavira menahan napas, menatap cincin di jarinya. Ad
Last Updated : 2025-11-29 Read more