“Tunggu. Kamu tahu dari mana kalau aku pernah jadi ambassador?”Tavira akhirnya bertanya, mencoba terdengar santai padahal jantungnya memukul tulang rusuk.Juan tersenyum kecil, tapi senyumnya bukan yang ramah seperti biasanya. Lebih seperti senyum yang sedang menyembunyikan sesuatu.“Oh, itu?” Ia terkekeh pelan. “Mall itu dekat kantorku. Jadi sering lewat, dan wajahmu terpampang di layar pusat atrium. Sangat mudah mengenalimu.”Jawaban yang logis. Tapi caranya menjawab terlalu cepat, terlalu mulus.Tavira mencoba berpikir tenang. Jangan langsung curiga. Bisa saja benar. Tapi ada sesuatu dalam sorot mata Juan yang menimbulkan tanda tanya besar. Ia terlihat santai, namun terlalu santai untuk seseorang yang baru saja hampir terpojok pertanyaan.Juan lalu melirik jam tangannya.“Ah, aku harus menghadiri pertemuan singkat setelah ini. Senang bertemu denganmu lagi, Tavira.”“Ya, senang bertemu juga.”Juan pun pergi tanpa memb
Last Updated : 2025-12-11 Read more