Mereka baru saja selesai makan wafel es krim ketika seorang fotografer keliling mendekat. Kamera analog tergantung di lehernya, dan topi lebar menutupi sebagian wajahnya.“Mbak, Mas. Mau foto untuk kenangan? Sedang pacaran, ya? Kalian terlihat cocok sekali.”Tavira hampir tersedak napas.“Ah, kami bukan—”“Iya, tolong fotokan kami,” sela Darian cepat.Tavira menoleh, kaget. Darian hanya tersenyum tipis, seperti lelaki yang memutuskan menikmati kesempatan yang diberikan semesta meski sebentar.Fotografer menata posisi mereka.“Mas di belakang, tolong lebih dekat. Iya, begitu. Tangannya boleh di bahu…”Tavira kaku. Seolah lupa kalau setahun lalu ia pernah menjadi model dan ambassador mall megah yang mengharuskan ia tampil di depan kamera.Darian pelan meletakkan tangan di bahu Tavira. Ringan, hati-hati, seperti menyentuh sesuatu berharga yang bisa pecah.“Santai saja,” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar. “Kalau
Last Updated : 2025-11-26 Read more