“Suntik dulu ya, Nak. Kamu harus dikasih vitamin, sayang. Biar sehat, biar gak gampang sakit,” ucap Yessa lembut pada bayi kecilnya, Arbil. “Ah …!” sahut Arbil lirih, seolah menimpali ucapan sang ibu. “Iya, gak apa-apa. Sebentar aja, kok. Gak lama,” Yessa tersenyum menenangkan, lalu menyerahkan bayinya pada dokter yang dibantu perawat untuk memegangi lengan kecil itu. Arbil mengerjap pelan, matanya masih tertuju pada wajah Yessa yang terus menggodanya dengan senyum dan suara lembut. Sesaat kemudian, jarum suntik menancap. Tangis itu langsung pecah, nyaring dan membuat dada Yessa terasa diremas. Tanpa menunggu lama, ia segera meraih Arbil kembali ke dalam pelukannya. “Hu … sayang anak Mama. Jangan nangis, Nak,” bisiknya, mengusap punggung kecil sang bayi perlahan. “Sakitnya cuma sebentar. Ini buat kamu, buat kesehatan kamu.” Tangis Arbil berangsur melemah, meski isakannya masih terdengar kecil.
Leer más