“Panggil aku pake nama langsung, habis kamu, sayang,” ancam Isandro dengan nada dingin, tatapannya tajam seperti hewan buas yang ingin menerkam mangsanya. Tidak untuk dimakan, akan tetapi untuk hal lain yang mana Yessa pun tak akan merasa rugi. “Kenapa, sih? Siapa tahu kan yang mau gitu bukan aku, tapi anak kamu,” balas Yessa tak mau kalah, namun diam-diam menahan tawa yang hendak meledak. “Jangan bawa anak, aku tahu kamu sengaja,” Isandro memicingkan matanya dingin. Yessa melipat bibirnya menahan senyum. “Kalau aku panggil sayang, mau? Kayak, sayang ambilin handuk aku, dong,” ucapnya dengan nada manja. “Hm, itu lebih bagus,” balas Isandro cepat, kupingnya seketika merah. Yessa terkikik geli melihat itu. Ia melirik perutnya yang menonjol, lalu mengusapnya perlahan. “Papa kamu lagi salting, Nak,” adunya pada sang anak yang masih di dalam rahim. “Kalau kamu udah lahir nanti, dan lihat Papa kamu yang udah tua itu salting ... ledek aja, ya?” “Tua?” Isandro menyeringai miring. “Sia
Baca selengkapnya