“Yessa, Nak …?” Shofia mendekat, tatapannya jatuh pada Arbil yang polos dan tak tahu apa-apa. Bocah itu bersandar nyaman di pelukan sang ibu. Yessa berhenti di tengah-tengah ruangan, menatap pada suami dan ibu mertuanya. Tatapannya singkat, datar, nyaris kosong. “Aku harus cari tempat lain dulu, untuk sementara gak mau serumah sama Mas Isa sebelum semuanya jelas,” ucapnya pelan, nyaris tak bernada. “Aku butuh tenang.” Isandro melangkah mendekat, panik. “Jangan gini, Yessa. Jangan bawa Arbil. Kita bisa ngomong baik-baik—” “Mas,” potong Yessa lelah. “Aku udah terlalu capek buat ngomong.” Ia mengeratkan gendongannya pada Arbil, lalu kembali menarik koper itu. “Sayang, aku mohon, jangan kayak gini,” Isandro menahan lengan Yessa dengan genggaman erat, suaranya pecah. “Aku berani bersumpah, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Angel.” Yessa menatapnya lurus, tanpa ge
Read more