تسجيل الدخولMemiliki suami narsistik yang gemar mabuk dan kerap melakukan KDRT adalah neraka tak berujung bagi Yessa. Ia bertahan bukan untuk dirinya, melainkan demi sang ibu yang sudah memantapkan pilihannya pada Kaveer sebagai menantu. Tekanan semakin mencekik ketika dua keluarga terus menuntutnya hamil, sementara sudah dua tahun berlalu pernikahan, tak ada secuil janin di rahimnya. Di tengah kehampaan itu, hadir Isandro—sahabat Kaveer yang ternyata adalah senior Yessa di rumah sakit. Isandro menyimpan tatapan penuh rahasia—tatapan yang menelanjangi Yessa tanpa sentuhan, membakar darahnya setiap kali mereka berduaan. Yessa mencoba menjaga jarak, namun Isandro tak pernah mundur. Semakin ia menolak, semakin Isandro mendekat—mencuri waktu, perhatian, hingga akhirnya mencuri tubuhnya. Di antara dinginnya pelukan suami, Yessa menemukan panas yang memabukkan di pelukan lelaki lain. Sebuah rahasia yang menjadi candu—dan jika terbongkar, akan menghancurkan segalanya.
عرض المزيدParis menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Isandro bersama keluarganya. Dan ini adalah pertama kalinya ketiga anak mereka menjejakkan kaki di luar negeri. Penampilan Arby, Yessy, dan Arbil tampak menggemaskan dengan jaket tebal, topi rajut, serta syal yang melingkar rapi di leher masing-masing. Udara dingin Paris membuat pipi mereka sedikit memerah, kontras dengan wajah polos yang penuh rasa penasaran. “Kenapa kita jalan kaki, Pa?” tanya Yessy sambil mendongak ke arah sang ayah yang menggendong Arbil. “Emang Papa gak punya mobil di sini?” Isandro tersenyum kecil. “Lebih seru jalan kaki, Nak. Biar sehat. Lihat tuh, orang-orang Eropa pada jalan kaki semua.” Yessy menoleh ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan santai. “Oh iya,” gumamnya pelan. “Sini,” Arby mengulurkan tangannya ke arah sang adik. “Jalan sama kakak, biar kamu gak ilang.” Yessy menatap tangan kakaknya sejenak, lalu menggenggamnya erat dengan jari-jari kecilnya. “Nah, gitu,
“Senyum kalau kamu mau nambah anak,” bisik Yessa pelan, tepat di telinga sang suami. Isandro bukan tersenyum—ia justru tertawa lepas, bahunya sedikit bergetar. “Mas?” Yessa membulatkan matanya sambil ikut tertawa kecil. “Aku bilang senyum, bukan ketawa. Kamu gak mau nambah anak, ya?” Isandro menyipitkan mata, menatap istrinya penuh arti. “Emangnya kamu mau?” Yessa menyengir lebar, senyum kuda khasnya muncul. “Enggak, sih. Cukup tiga aja, ya?” “Tiga?” Isandro mengangkat sebelah alis. Tangannya refleks menarik pinggang ramping Yessa, membuat wanita itu duduk di pangkuannya. “Berarti kurang satu lagi. Arby kan anak aku dari istri sebelumnya.” “Tapi Arby itu anak aku juga,” balas Yessa tanpa ragu. Tatapannya lembut, dalam. “Aku udah anggap dia kayak anak kandung sendiri, Mas. Tiga anak cukup.” Isandro terdiam sejenak, lalu mengangguk singkat. “Oke. Terserah kamu, sayang. Kamu yang punya tubuh, aku gak akan maksa. Tiga anak udah cukup. Yang penting, kita kasih mereka kasih sa
“Jalan, Nak. Kan kamu udah bisa jalan,” ucap Isandro sambil berjongkok, menepuk pelan karpet di depannya. Arbil yang semula merangkak berhenti sejenak. Ia menatap sang ayah ragu-ragu, lalu kembali menumpukan kedua telapak tangannya ke karpet, memilih merangkak pelan. Yessa tersenyum kecil melihatnya. “Dia takut jatuh, Mas. Keseimbangannya belum stabil.” Isandro terkekeh pelan. “Penakut kayak Mamanya,” godanya ringan. Yessa melirik tajam, tapi sudut bibirnya justru terangkat. Ia kemudian menatap sang suami lebih lama, rautnya melunak. “Nanti sore ikut aku, gak?” Isandro langsung menoleh penuh perhatian. “Ke mana?” “Kamu gak ke rumah sakit hari ini?” alis Yessa terangkat. “Bisa aku atur. Ke mana dulu?” balas Isandro cepat. “Kalau memang sore kita pergi, sekarang aku berangkat ke rumah sakit.” “Hari ini Fika keluar dari rumah sakit, Mas. Aku mau jenguk dia. Sekalian ajak anak-anak.” “Fika?” dahi Isandro berkerut sesaat. “Sakit apa?” “Habis lahiran.” “Oh,” Isandro me
“Raka, kamu jangan deket-deket terus,” keluh Yessy, matanya melirik dingin ke arah bocah laki-laki itu. Langkahnya diperlambat agar tetap sejajar dengan Arsy yang menggenggam tangannya erat. “Aku jalan biasa, gak deket-deket, Ci. Aku juga mau pulang,” balas Raka datar, tanpa mempercepat ataupun memperlambat langkahnya. “Ya udah sana,” Yessy mendorong lengan Raka pelan, memberi isyarat agar bocah itu berjalan lebih dulu. “Eci, gak boleh gitu,” tegur Arsy. Ia justru mengulurkan tangan kecilnya ke arah Raka. “Sini, Raka. Jalan di samping aku aja. Kita gandengan tangan bertiga.” Raka sempat terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis sebelum menerima uluran tangan Arsy. Ketiganya pun berjalan beriringan, meninggalkan kelas menuju luar gedung sekolah, siap bertemu orang tua masing-masing yang masih tertib dalam menunggu. Di luar, Isandro dan Yessa masih setia menunggu sambil menemani Arbil. Bayi itu tampak tenang di gendongan, matanya sesekali bergerak ke sana kemari, sama sekali tak
Shofia menatap anak dan menantunya secara bergantian. “Kalian pergi jalan-jalan?” Isandro menggeleng pelan. “Nggak, Ma. Kami baru dari rumah sakit. Aku kerja, Yessa datang buat anter imunisasi Arbil. Pulangnya jemput Arby ke sekolah.” Helaan napas panjang lolos dari
“Papa katanya mau ajak Acih jalan-jalan ke emmol,” tagih Arsy pada sang ayah, Luke. Mendengar itu, Aurora terkekeh pelan. Karena sang anak sama sekali tidak lupa dengan janji sang ayah yang akan membawanya jalan-jalan ke mall. “Boleh, Nak. Mau kapan?”
“Bagaimana kabar rumah tangga kamu sekarang?” tanya Isandro sambil menatap Luke yang tengah menyuapi Arsy dengan sabar. Luke sempat mengalihkan pandangan, dari wajah anaknya ke Isandro. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara Yessy menyela lebih dulu. “Acih, makan se
“Suntik dulu ya, Nak. Kamu harus dikasih vitamin, sayang. Biar sehat, biar gak gampang sakit,” ucap Yessa lembut pada bayi kecilnya, Arbil. “Ah …!” sahut Arbil lirih, seolah menimpali ucapan sang ibu. “Iya, gak apa-apa. Sebentar aja, kok. Gak lama,” Yessa tersenyum m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
التقييمات
المراجعاتأكثر