“Papa jangan gendong adek terus. Eci juga mau digendong,” protes Yessy pada sang ayah, bibir mungilnya mengerucut gemas. “Iya, Nak,” Isandro mengangguk, berusaha menahan senyum. Ia kemudian meletakkan Arbil di atas kasur kecil yang dihampar di ranjang. “Adek tiduran dulu, ya. Gantian sama Kakak Eci. Kakak juga minta digendong Papa,” ucapnya lembut. Namun baru saja Isandro berbalik, tangis Arbil langsung pecah—nyaring dan mendesak, seolah tak rela ditinggal. Sementara itu, Yessa masih berada di kamar mandi. “Hm, kayaknya adek belum mau ditaruh,” gumam Isandro. Ia kembali mendekat, menepuk paha Arbil pelan, mencoba menenangkannya tanpa langsung menggendong. Yessy ikut mendekat. Ia memanjat ranjang dengan usaha yang terlihat berat bagi tubuh kecilnya. “Adek jangan nangis,” omelnya sambil berkacak pinggang. “Gak boleh cengeng.” Isandro terkekeh pelan. “Eci juga dulu sering nangis, Nak.” “Nggak,” bantah Yessy cepat, seolah lupa masa bayinya sendiri. “Iya,” balas Isandro sabar. “Ka
Baca selengkapnya