Dalam keadaan napas berat yang tertahan penuh paksaan, Asher terpaksa melangkah maju ke area lantai dansa bersama Talia. Tangan pria itu mendarat di pinggang Talia dengan kaku, formalitas tanpa nyawa. Senyum profesional yang dingin terpasang di wajah tampannya demi konsumsi publik dan kilatan lampu blitz.Namun, sayang fokus Asher sama sekali tidak ada pada wanita di depannya. Mata elang pria itu terus bergerak secara berkala, melacak siluet Adeline yang masih bergerak anggun dalam dekapan Raphael. Setiap kali melihat jemari Raphael merapat di tubuh Adeline, cengkeraman tangan Asher di punggung Talia tanpa sadar mengeras karena menahan gejolak cemburu yang membakar dada.“Asher, kau meremas gaun peninggalku terlalu kencang,” bisik Talia setengah mendesis, mencoba mempertahankan senyum manisnya di depan kamera walau hatinya kesal setengah mati merasakan ketidakhadiran jiwa suaminya di dansa ini.Asher tidak menyahut sama sekali. Pria itu hanya melonggarkan sedikit pegangannya tanpa mem
Read more