Mag-log in“Saat cinta tak pernah benar-benar dimulai, perpisahan bisa menjadi awal segalanya ….” Adeline Hart mengira hidupnya baru saja mulai membaik setelah satu tahun menjalani pernikahan yang dijodohkan. Namun, kenyataan pahit datang saat Asher, suaminya, meminta cerai karena wanita lain—dan karena alasan yang tak bisa ditolak: anak dari hubungan masa lalunya. Tanpa rumah, tanpa keluarga, dan tanpa masa depan yang pasti, Adeline membawa satu hal paling berharga yang tak diketahui siapa pun—kehamilannya. Namun, di tengah keputusasaan, Adeline menyadari bahwa dia tidak sendirian. Dalam rahimnya tumbuh kehidupan kecil—hasil dari cinta yang tak pernah benar-benar tumbuh.
view more“Bisa kau jelaskan apa ini?”
Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap menjerit merasakan sakit luar biasa.
Asher Lennox masih berdiri kokoh di depannya, dengan tatapan dingin dan ekspresi datar di balik wajah tampan serta arogan. Tak ada gejolak emosi yang tampak di sana, tetapi ketenangannya bagaikan ombak yang menyapu bersih pinggir pantai.
“Dari mana kau dapat foto itu?” tanya Asher dengan nada dingin, tak acuh.
Mata Adeline berkaca-kaca. “Ada paket yang berisikan foto-foto ini. Katakan padaku, siapa wanita yang bersama denganmu, Asher? Dan kenapa kalian ada di dokter kandungan?”
Asher menatap dingin foto yang ditunjukkan oleh Adeline. “Itu Talia. Dia sedang hamil,” jawabnya singkat, tanpa memikirkan perasaan Adeline.
Jantung Adeline bagaikan telah ditikam oleh belati tajam. “T–Talia hamil? M–maksudmu Talia mantan kekasihmu?” tanyanya lagi meminta penjelasan.
Asher mengangguk, menanggapi pertanyaan Adeline. “Ya, Talia, mantan kekasihku hamil. Dan ayah yang ada di kandungannya adalah aku.”
Mata Adeline membolakan kedua mata begitu kalimat dengan nada dingin itu terucap dari bibir suaminya. Jantungnya serasa berhenti berdetak, disusul rasa dingin menusuk yang mencabik setiap sudut hatinya.
“A–apa maksudmu, Asher?” tanya Adeline, dengan suara nyaris seperti bisikan. Bisikan antara keterkejutan dan rasa tidak percaya yang terlalu menohok. Kedua matanya memanas dengan cepat, mencoba memandang seraut wajah dingin di depannya.
Asher menatap dingin Adeline. “Kalimatku sudah sangat jelas. Talia hamil. Dia saat ini mengandung anakku.”
Adeline menggelengkan kepalanya, meyakinkan apa yang dia dengar ini adalah kesalahan. Kakinya sudah seperti jelly yang tak bisa lagi berdiri tegak. Dia sampai memegang pinggir sofa, guna memperkokoh pijakan kakinya di lantai marmer.
“K–kau mengkhianatiku?” tanya Adeline lirih, menahan sesak di dada yang seperti membakar dirinya.
“Sepertinya kau tahu sejak awal, aku tidak pernah mencintaimu. Pernikahan ini terjadi, karena permintaan keluarga kita,” jawab Asher dingin, dan tegas.
Lidah Adeline tiba-tiba saja mendadak kelu mendengar kalimat keji terlontar dari sang suami yang begitu dia cintai. Ya, pernikahannya dengan Asher masih terhitung sangat baru.
Satu tahun ini mereka resmi terikat sebagai pasangan suami istri. Meski pernikahan mereka datang karena perjodohan orang tua, Adeline diam-diam telah mencintai Asher dengan sepenuh hatinya. Namun, sebaliknya. Asher memang bersikap tanggung jawab penuh sebagai seorang suami, sayangnya Adeline tidak bisa menemukan sedikit pun cinta dalam setiap tindakan pria itu. Membuat mereka bak orang asing yang terpaksa hidup satu rumah.
Adeline selama ini meneguhkan prinsip di mana suatu saat Asher akan berubah lebut, mencintainya dengan luar biasa. Akan tetapi, alih-alih berubah fakta yang dia dapatkan adalah Asher dengan kejam terang-terangan mengatakan telah menghamili wanita lain.
“Katakan padaku bahwa semua yang kau katakan ini hanya bercanda,” jawab Adeline berharap sambil menggeleng tegas, meyakinkan bahwa apa yang dikatakan suaminya hanya omong kosong.
“Apa selama kita menikah aku adalah pria yang suka bercanda?” tanya Asher telak, sukses membuat Adeline tak bisa berkutik.
Adeline menundukkan kepala, air matanya sudah tak lagi tertahankan. “K–kenapa?” tanyaanya parau.
“Aku mencintai Talia. Sejak awal, aku yakin kau tahu aku tidak pernah mencintaimu,” jawab Asher tajam.
Adeline mati-matian berusaha keras menahan air mata yang nyaris tumpah. Namun, sayangnya air matanya tak bisa diajak bekerja sama. Dia meneteskan air mata, menyadari bahwa memang dia sudah kalah.
“Aku sudah meminta pengacara kita mengurus perceraian kita. Tapi, ternyata sebelum aku memberi tahu, sudah ada yang mengirimkan fotoku dan Talia. Jadi, aku rasa tidak perlu lagi aku menunggu. Aku ingin kita berpisah. Talia membutuhkanku,” kata Asher lagi, membuat tubuh Adeline terguncang.
“K–kau lebih memilih Talia?” tanya Adeline lagi, dengan kepala yang tertunduk lesu.
Asher mengangguk singkat. “Talia hamil anakku, aku tidak mungkin tidak memilihnya. Sejak awal pernikahan kita terjadi karena perjodohan orang tua, bukan keinginan kita. Sekarang kedua orang tua kita sudah tidak ada, jadi aku membebaskanmu dari ikatan yang membelenggu ini.”
Setiap kata yang terucap dari bibir pria itu seperti mengandung racun mematikan yang diteguk Adeline dengan pasrah. Matanya sejak tadi sudah berkaca-kaca, tetapi wanita 27 tahun itu tetap mempertahankan diri dengan mengusahakan agar air matanya tidak jatuh sekarang juga.
“Dalam waktu dekat, pengacaraku akan menghubungimu. Jangan persulit proses cerai ini. Aku akan memberikan kompenasasi untukmu,” sambung Asher, masih dengan nada dinginnya yang menambah rasa sakit di hati Adeline.
Namun, Adeline masih diam membisu dengan tatapan rumit tanpa kedip. Bayangan acak terus muncul dan menyesakkan kepalanya. Muncul secara bergantian, menumpuk, memutar secara cepat seluruh perjalanan mereka yang teramat singkat.
Satu tahun usia pernikahan mereka. Masih terhitung seumur jagung. Keduanya pun tidak memiliki waktu pendekatan cukup karena pernikahan langsung diadakan tanpa aba-aba. Meski begitu, Adeline tidak bisa menahan hatinya yang langsung jatuh pada pesona Asher.
Asher memiliki wajah tampan rupawan, dengan sikap dingin dan dominasi yang kental. Namun, pria itu tahu tanggung jawab dan memperlakukan Adeline dengan baik. Selama menikah, Asher memenuhi semua tanggung jawabnya sebagai suami.
Adeline tak pernah merasa dicintai oleh Asher. Namun, dia tetap bertahan menjadi istri yang baik, karena yakin bahwa kelak mungkin saja Asher akan menjadi suami yang mencintainya dengan luar biasa.
Kenyataan yang ada impian Adeline hanyalah angan semata. Ternyata di belakangnya, suaminya itu diam-diam kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasih suaminya itu. Dia mengenal Talia, karena dulu hubungan Asher dan Talia tak direstui oleh keluarga Asher.
Bisa dikatakan bahwa perpisahan Asher dan Talia terjadi, karena orang tua Asher meminta pria itu untuk menikah dengan Adeline. Namun, Adeline tak pernah menyangka kalau ternyata Asher berani mengkhianatinya seperti ini.
“Harusnya jika kau mencintai Talia, pertahankan dia. Jangan menerima permintaan orang tuamu yang ingin aku menjadi istrimu,” ucap Adeline dengan nada bergetar.
Asher terus menatap dingin Adeline yang sejak tadi meneteskan air mata. Ada sesuatu di dalam hatinya, melihat wanita itu menangis, tetapi logikanya langsung berjalan bahwa ini memang yang dia inginkan.
“Ribuan kali aku menolak perjodohan denganmu. Tapi orang tuaku selalu mendesak bahkan tidak jarang memberikan ancaman menyudutkan. Sementara kau seperti orang idiot yang menurut pada orang tuamu. Kau dan aku tidak berada di posisi yang sama!” tegas Asher menekankan.
Adeline mengangguk, menyadari bahwa memang dirinya bodoh. Dia begitu mudah menerima perjodohan dengan Asher, padahal pria itu berkali-kali menolak. Kepolosannya menganggap bahwa Asher kelak akan mencintainya. Namun, ternyata bukan cinta yang dia dapatkan. Hal yang dia dapatkan hanya luka yang begitu dalam.
“Fine, jika itu maumu, akan aku penuhi. Kapan pengacaramu akan menghubungiku?” tanya Adeline seraya terus berusaha menguatkan diri.
“Secepatnya pengacaraku akan menghubungiku. Setelah kita berpisah, kau bisa tetap tinggal di mansion ini. Mansion ini untukmu,” ucap Asher dingin, dan menegaskan. Detik selanjutnya, dia berbalik, melangkah pergi meninggalkan Adeline yang masih bergeming di tempatnya.
Tubuh Adeline langsung ambruk tepat di kala Asher pergi. Wanita cantik itu duduk di lantai marmer dingin, memeluk lututnya, menangis sekencang-kencangnya. Air mata berlinang membasahi pipi. Dia menumpahkan gejolak emosi yang mengekang jiwa.
Asher, pria yang menjadi cinta pertamanya, dan telah menjadi suaminya ternyata adalah orang yang menghancurkan Adeline. Cinta tak terbalas seperti mawar berduri. Akan ada bagian yang terlihat indah, tetapi akan ada yang terluka.
“Bagaimana kalau kau tahu bukan hanya Talia yang hamil, Asher?” bisik Adeline pilu, seraya memegang perutnya yang masih rata.
Mobil mewah milik Asher membelah dinginnya malam Manhattan, lalu berhenti secara mendadak di bahu jalan Manhattan Bridge yang terisolasi. Di atas struktur baja megah yang membelah Sungai East ini, deru angin malam bertiup kencang dan menggigit, beradu dengan gemuruh samar lalu lintas kota dari kejauhan.Asher keluar dari mobil, melangkah mantap menuju tepi jembatan dan menyandarkan tubuh jangkungnya pada pagar besi yang sedingin es. Kedatangan mereka ke tempat senyap ini bukan tanpa alasan. Di lokasi syuting tadi, Paul sempat menahannya karena situasi terlalu banyak pasang mata. Paul meminta tempat yang benar-benar aman dari jangkauan siapa pun agar informasi tetap terjaga.Asher menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku mantel tebal, menatap lurus pada kegelapan air sungai di bawah sana. Langkah kaki Paul mendekat tergesa-gesa, berhenti tepat di sampingnya seraya mencengkeram erat sebuah dokumen rahasia.“Kau bisa bicara sekarang,” ucap Asher dingin, tak suka basa-basi.Paul menari
“Aku selalu bangga padamu. Aktingmu tadi luar biasa. Menjiwai sekali.” Nora tersenyum sembari menikmati steak yang ada di hadapannya. Dia dan Adeline kini berada di salah satu restoran yang tak terlalu besar di kawasan Brooklyn.Sepulang syuting, Nora mengajak Adeline makan steak di restoran. Marie melapor kembar sudah tidur. Itu kenapa Nora mengajak Adeline mampir ke restoran yang baru buka di kawasan Brooklyn. Melihat iklan di sosial media, cukup mengiyurkan, membuat Nora langsung bergegas ke sana. “Menjadi aktris adalah pekerjaanku, Nora. Bersandiwara dan menyampaikan emosi di depan kamera sudah menjadi bagian dari profesionalitasku. Jadi, aku pasti selalu berusaha memberikan yang maksimal,” jawab Adeline tenang. Tangannya sibuk menggerakkan pisau dan garpu di atas piring, namun potongan steak juicy di hadapannya justru belum tersentuh sama sekali sejak disajikan.Nora menghentikan kunyahannya, lalu menatap pisau dan garpu di tangan Adeline yang hanya bergeser ke kanan dan ke kiri
Plakkk Gema suara benturan keras membelah keheningan set syuting. Tamparan Adeline mendarat telak di pipi kanan Raphael, menyisakan jejak kemerahan yang mencolok di kulit pria itu. Sorot mata Adeline berkilat-kilat, memancarkan amarah yang menggulung dahsyat di balik dadanya yang naik-turun menahan sesak. Gemetar halus di jemarinya bukan sekadar akting, melainkan emosi mentah yang seolah meledak keluar dari relung terdalam.“Berani sekali kau menciumku! Jangan sentuh aku, sialan!” bentak Adeline melengking, menghayati perannya sebagai Clarissa dengan begitu sempurna.Raphael tertegun sebentar, memegangi pipinya yang berdenyut panas. “Clarissa—”“Enough!” potong Adeline cepat, menyapu habis kesempatan Raphael untuk bersuara. “Kau sendiri yang memilih berselingkuh, lalu sekarang dengan tanpa dosa datang seolah semua baik-baik saja? Aku tidak seidiot itu! Kau tahu? Pria sepertimu tidak akan pernah mengerti ketulusan cinta yang sebenarnya. Kau akan tetap menganggap dirimu layak dimaafkan
“Lepas,” bisik Adeline tegas, menyalurkan peringatan yang penuh ketegangan. Napasnya mulai memburu menahan amarah, tetapi sebisa mungkin dia menjaga kestabilan suaranya agar tidak memancing perhatian kerumunan kru di sekitarnya.Asher justru semakin memperketat cengkeramannya di lengan Adeline, seolah berniat menahannya di sana selamanya. “Aku tidak akan melepasmu,” desisnya tegas, sama sekali tidak bermain-main dengan ucapannya.Nora berdeham keras, merasa bahwa situasi sudah semakin tidak terkendali dan dia harus segera bertindak. “Tuan Lennox, mohon untuk melepaskan tangan Anda dari Adeline. Hari ini Adeline memiliki jadwal pengambilan gambar yang sangat padat. Saya harap Anda bisa bersikap profesional dan mengerti situasi ini.”Asher mendengar teguran dari Nora, tetapi pria itu hanya memberikan lirikan mata yang dingin dan tajam tanpa berniat merespons sepatah kata pun. Dia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Adeline, mengabaikan keberadaan Nora di samping mereka.“Tuan
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore