Adeline mencengkeram pinggiran wastafel marmer dengan jemari yang bergetar hebat. Buku-buku jarinya memutih, menahan beban tubuhnya yang mendadak terasa lemas tak berdaya. Di depan cermin besar bernuansa emas dan marmer hitam itu, bayangannya sendiri terpantul mengenaskan. Rambutnya yang semula tertata rapi kini sedikit berantakan. Namun yang paling menyiksa penglihatannya adalah bibirnya sendiri—memerah, bengkak, dan basah akibat ciuman brutal Asher beberapa saat lalu.Emosi membakar dada Adeline, bersatu padu antara rasa cemas, amarah, dan penderitaan atas ego mantan suaminya yang seolah tak pernah puas menginjak-injak kebebasannya. Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang kembang-kempis, Adeline memutar kran air. Dia mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan telapak tangan yang dibasahi air dingin, berharap bisa menghapus jejak, aroma, dan rasa manis berbahaya yang ditinggalkan Asher di sana. Rasa perih menguar di permukaan bibirnya yang lecet, tapi rasa sakit di hatin
Ler mais