Bab 4Fikri semakin pendiam.Setiap pagi ia berangkat seperti biasa, tetapi semangatnya hilang. Ia tidak lagi membicarakan berapa uang yang didapat. Ia hanya pulang, mencuci tangan, lalu duduk lama di halaman.Aku sering melihatnya memandangi motor itu dengan tatapan kosong.Motor yang awalnya kami harapkan menjadi jalan keluar, kini berubah menjadi rantai yang mengikat keluarga kami pada Jasper.Suatu malam, aku terbangun karena mendengar suara pukulan dari halaman.Aku keluar dan melihat Fikri berdiri di dekat dinding. Ia memukul dinding dengan tangannya sampai buku jarinya berdarah.“Fikri!” Aku berlari menghampirinya.Ia menunduk, suaranya pecah.“Aku tidak berguna, Mary. Aku bahkan tidak bisa melindungi keluargaku sendiri.”Aku memegang tangannya.“Jangan bicara seperti itu. Kita sedang sulit, tapi kita masih bersama.”Ia menatapku dengan mata merah.“Jasper menekanmu lagi, kan?”Aku membeku.“Tidak.”“Jangan bohong.”Aku tidak sanggup menjawab.Ia menarik napas panjang, lalu berk
Read more