Darren tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Alara, seolah menimbang sesuatu yang tak ia ucapkan.Tatapan itu menusuk, namun bukan tatapan marah—lebih seperti tatapan yang mencoba membaca isi pikirannya."Nanti setelah pulang kerja ... aku izin untuk menjenguk Riven. Apa boleh?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara sedikit lebih pelan. Ada nada ragu di ujungnya.Darren akhirnya bersuara, datar. "Boleh."Satu kata itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat napas Alara lega."Terima kasih," ujarnya singkat.Ia pikir percakapan akan selesai, tapi Darren belum memalingkan pandangannya. "Aku yang akan menentukan jamnya."Nada itu tegas, tanpa memberi ruang untuk tawar-menawar.Alara hanya mengangguk. "Baik."Mobil hitam itu melaju mulus di sepanjang Kingsleigh Square, melewati deretan gedung kaca yang berkilau memantulkan sinar matahari pagi. Di kursi belakang, Alara duduk diam, tangannya meremas tas kerja di pangkuannya. Rocco menyetir di depan, sementara Jimmy dudu
Last Updated : 2025-12-04 Read more