LOGINAlara Devienne tak pernah berpikir bahwa satu keputusan nekat—menjual keperawanannya demi menyelamatkan adiknya—akan menjeratnya dalam pernikahan kontrak dengan Darren Julian Whitmore, CEO di tempatnya bekerja. Ia terisolasi di rumah mewah tersembunyi, menjadi istri yang tak boleh disebut, tak boleh diketahui siapa pun. Tapi Darren menyimpan lebih banyak rahasia dari yang Alara bayangkan. Tentang masa lalu. Tentang keluarganya. Tentang seorang anak kecil yang tiba-tiba mengisi kekosongan hari-harinya. Ketika cinta tumbuh dari luka dan sakit hati, Alara dihadapkan pada pilihan paling sulit. Yaitu tetap menjadi rahasia dalam hidup pria itu atau meninggalkannya untuk menemukan kembali dirinya sendiri.
View MoreHidup Olivia yang semula manis kini berada dalam suatu tempat yang ia sebut api penyucian. Entah apa yang membuatnya menyebut frasa tersebut.
Yang ia tahu kini ia sedang berdandan ayu di depan cermin di sebuah ruang make-up. Dengan rasa kesal yang membendung tinggi dalam hati dan benaknya.
Bukankah seharusnya pengantin merasa bahagia ketika menyambut pernikahannya?
“Ck! Menikah!?” decitnya sendiri ketika perias tersebut telah selesai menata wajah cantiknya itu.
Pasalnya, Olivia tidak ingin menikah selama hidupnya. Ia hanya melihat dirinya menghabiskan waktu bersama anjingnya yang beranak-pinak dan berlarian di rumah besarnya.
Uang? Punya. Rumah keren? Punya. Mobil? Lebih dari satu. Lantas mengapa Olivia menikah dengan laki-laki yang disebut super sempurna itu? Padahal dirinya juga memiliki segalanya.
Orang tua bangkrut? Tidak juga. Orang tua butuh uang untuk pengobatannya seperti di novel-novel? Kalau ini tidak mungkin, harta keluarga Olivia sudah tumpah-tumpah.
Kini gaun sudah terpampang apik di badannya yang langsing itu. Gaun putih yang sangat pas dengan lekuk tubuhnya. Gaun yang didesain oleh desainer terkenal, Valina Sanris, diimpor dari Paris.
Dengan sepatu hak tinggi putih dengan kilau berlian yang terpampang di sepatu tersebut meski tak terlihat karena tertutupi oleh rumbai gaun. Olivia sembari memegang bunga estetik yang tak terlalu mencolok di mata dengan warna krem dan pink.
Saat melangkahkan kakinya menuju altar, Olivia pun jatuh terkulai tak sadarkan diri. Membuat seluruh keluarga dan tamu panik.
Calon suaminya dari altar perlahan berjalan santai menuju Olivia.
Pria dengan jas hitam pekat nan pas di tubuhnya itu langsung menggerakkan tangannya di lengan Olivia. “Heh? Bangun! Aku tau kamu pura-pura,” bisiknya setelah menyuruh semua orang menyingkir.
“Ivan! Olivia itu pingsan! Bukan pura-pura! Bawa dia ke dalam dulu,” gertak ayahnya Ivan.
Dengan enggan, Ivan membopong Olivia dan menidurkannya di kursi tamu yang sudah dihimpitkan agar cukup untuk badan Olivia.
Ibunda Olivia pun datang membawakan aromaterapi agar Olivia bisa bangun.
“Biar Ivan saja, Tante?”
Ivan pun berusaha membangunkan Olivia sambil mencibir. “Akal-akalanmu aja. Aku tau.”
***
Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Olivia sedang pergi ke kelab malam. Bersenang-senang dengan teman seumurannya.
Olivia, wanita 22 tahun dengan paras cantik. Ia juga merupakan seleb sosial media sedang viral. Tik-tok.
Sejak kecil ia selalu didukung keluarganya dalam hal finansial. Bisa bersekolah di luar negeri juga termasuk privillege-nya. Namun dia memutuskan untuk tidak melanjutkan untuk mengambil jenjang S1 nya. Ia merasa sudah cukup dan bisa melanjutkan bisnis kedua orang tuanya di Surabaya.
Dengan harta yang diberikan oleh orang tuanya, Olivia merasa aman dengan masa depannya. Sehingga ia bermimpi tidak ingin menikah dan tetap menjalani kehidupannya seperti ini. Hal yang ia lakukan setiap hari sudah lebih dari membuatnya bahagia.
Malam ini, Olivia masih berada di kelab VIP para pemilik perusahaan. Dalam keadaan mabuk, dia melantur bersama teman-temannya.
Saat berjalan ke toilet dengan kedua temannya, kening Olivia serasa menubruk sesuatu di depannya. Ditatapnya benda aneh tersebut. Yang dilihatnya samar-samar dan membayangkan Dylan O’brien sedang akan menciumnya.
“Suamiku …. Hueeek!”
“Omaigat!” jerit Nessa, teman Olivia.
Kedua temannya terlepas kaget ketika melihat kelakuan temannya yang tak tahu malu itu.
Mata Olivia membelalak ketika melihat benda tadi kini menjadi seorang pria yang memakai kemeja hitam. Wajahnya muram saat menatap Olivia.
Bagaimana tidak? Olivia memuntahkan minuman keras yang sudah ada dalam lambungnya dari tadi. Tepat di dada pria tersebut yang memakai kemeja hitam tadi.
Parahnya, kejadian tersebut sudah terekam oleh beberapa teman pria tersebut yang sedang membuat konten di kelab ini. Menyaksikan aksi konyol Olivia yang menyebut pria tersebut sebagai suaminya dan menodai pakaian pria tersebut.
Olivia menggaruk kulit kepalanya, menunduk dan langsung berlari ke toilet wanita. Toilet mewah sesuai dengan tema kelab ini. Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke kelab ini. Mereka menyebutnya Crazy Rich.
“Carikan baju untukku. Kita pulang,” suruh pria tersebut dengan tegas kepada bodyguard-nya.
“Aduh! Gimana, dong?!”resah Olivia di depan cermin. Dengan rupa yang sudah terlumuri leburan eyeliner yang ia pakai sejak tadi siang.
Nessa dan Liana pun ikut mendampingi Olivia setelah mereka berdua meminta maaf pada pria tadi.
Sejujurnya mereka berdua bisa masuk ke kelab ini karena Olivia. Olivia menyayangi teman-teman SMA-nya ini. Sehingga kemanapun Olivia ingin mengajak mereka, ia selalu mentraktir.
Setelahnya, mereka memutuskan untuk pulang.
“Olivia!”
Lengkingan suara wanita itu membangunkan Olivia yang sudah hampir memasuki kamarnya. Jalannya sudah setengah mengantuk.
Olivia menoleh ke sumber suara. “Ma-mama? Kok di sini?”
“Kamu! Jam satu pagi baru pulang?!”
Sudah lelah dan enggan berdebat panjang. Olivia menjawab, “kan katanya nggak boleh pulang terlalu malam. Ya … Livia pulang pagi, dong, Ma?!”
“Aaargh, kamu memang sukanya ngeles dari dulu!”
Olivia melambaikan tangan dan langsung menuju kamarnya. “Dah, ah, Ma! Aku mau tidur dulu. Capek!”
Brak!
Suara pintu yang sedikit terbentur keras saat ditutup.
Aulia, ibunda Olivia mendengus menahan sabarnya. Apa yang salah ketika putrinya kecil? Apakah dia salah mendidik Olivia? Sehingga putrinya tumbuh menjadi perempuan malas, manja, dan seenaknya?
Aulia sengaja datang ke rumah Olivia tadi malam. Dia ingin mengetahui kabar putrinya yang sudah jarang pulang ke rumah utamanya. Suaminya, Billy, sedang berada di luar negeri sehingga ia tak punya teman di rumahnya kecuali para asisten rumah tangganya.
Keesokan harinya, Aulia bangun lebih pagi meski ia hanya tidur beberapa jam saja.
Dia pun ikut membantu asisten dapur untuk menyiapkan Olivia makan.
“Mbak, Olivia sering pulang pagi, ya?”tanya Aulia seiring memotongi wortel di meja dapur yang terbuat dari granit berwarna putih itu.
Asisten dapur itu mengangguk ragu, tak tahu harus berkata sejujurnya atau tidak. “Non Livia ….”
Aulia berhenti memotong wortel tersebut dan menoleh ke Asti. “Mbak bilang jujur aja, saya yang menggaji Mbak Asti.”
“Ehh?! Iya, Bu.”
Jawaban seperti itu sudah cukup jelas bagi Aulia. Dia pun mendongak. Melihat ke arah kamar tidur Olivia di lantai dua.
Aulia mendengus kesal. “Terlalu sering dimanja dengan uang dan semua yang meladeninya. Ck!”
Sedangkan Olivia, wanita berdarah blasteran tionghoa-jawa ini, masih tertidur pulas di kamar tidurnya yang luasnya sudah sama seperti apartemen mahasiswa.
***
Halo pembacaku yang cantik dan ganteng! Bantu subs author dan novel ini ya biar author semangat update!
Follow i* @novelbyreb dan f* author juga “Rebecca Puspa”
See you there! ^^
Darren tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Alara, seolah menimbang sesuatu yang tak ia ucapkan.Tatapan itu menusuk, namun bukan tatapan marah—lebih seperti tatapan yang mencoba membaca isi pikirannya."Nanti setelah pulang kerja ... aku izin untuk menjenguk Riven. Apa boleh?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara sedikit lebih pelan. Ada nada ragu di ujungnya.Darren akhirnya bersuara, datar. "Boleh."Satu kata itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat napas Alara lega."Terima kasih," ujarnya singkat.Ia pikir percakapan akan selesai, tapi Darren belum memalingkan pandangannya. "Aku yang akan menentukan jamnya."Nada itu tegas, tanpa memberi ruang untuk tawar-menawar.Alara hanya mengangguk. "Baik."Mobil hitam itu melaju mulus di sepanjang Kingsleigh Square, melewati deretan gedung kaca yang berkilau memantulkan sinar matahari pagi. Di kursi belakang, Alara duduk diam, tangannya meremas tas kerja di pangkuannya. Rocco menyetir di depan, sementara Jimmy dudu
Darren menatapnya dari jarak dekat, matanya menusuk ke dalam. "Jangan tidur dulu malam ini, Alara. Aku belum selesai denganmu."Sudut bibirnya terangkat tipis, lalu ia berbisik di telinga Alara, suaranya rendah dan berbahaya, "Kita baru saja mulai." Alara menelan ludah. Nafasnya tercekat, bukan karena takut—tapi karena intensitas tatapan itu membuat seluruh tubuhnya tegang. "Kalau begitu," ucapnya pelan, "aku akan menunggu sampai kamu selesai."Senyum tipis Darren tidak memberi rasa aman sama sekali. Satu gerakan cepat, ia menarik pinggang Alara, membuat tubuh mereka saling menempel tanpa ruang. Jemarinya menelusuri garis rahang, lalu turun perlahan, seperti sedang menguji batas kesabaran Alara."Aku tidak mau kau menunggu," bisiknya. "Aku mau kau melawan ... seperti tadi."Alara mengangkat wajahnya, memberi tatapan balasan. "Kalau itu yang kamu mau, siap-siap saja. Aku tidak pernah kalah kalau sudah memutuskan bermain."Darren tertawa pelan, tatapannya seperti singa yang baru saja m
"Aku mungkin bukan istri yang kamu inginkan." ucap Alara dengan lirih. Suaranya nyaris tenggelam dalam detak jantungnya sendiri, tapi cukup keras untuk terdengar. Alara memberanikan diri menatap Darren yang masih berdiri di depannya, sorot matanya gelap, penuh sesuatu yang tak terucap. "Tapi malam ini, aku akan mencoba jadi satu-satunya perempuan yang kamu butuhkan." Sekilas Darren tampak terpaku, tapi itu hanya sesaat. Sudut bibirnya terangkat tipis, dan tanpa berkata apa-apa ia melangkah mendekat. Tangannya yang besar dan hangat mengangkat dagu Alara, memiringkan wajahnya.. Dalam sepersekian detik, bibirnya sudah menutup kembali bibir Alara dengan ciuman yang langsung menuntut. Lidahnya menekan, memaksa Alara membuka mulutnya. Ia memimpin, mengarahkan, seperti ingin mengingatkan siapa yang berkuasa. Jemarinya menelusuri leher Alara, turun ke bahunya, lalu meraih pinggangnya dan menariknya begitu rapat hingga dada mereka saling menekan. Napasnya memburu, tapi gerakannya
Pagi itu masih terasa dingin. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Alara masih duduk diam di meja makan, menatap kosong ke arah secangkir tehnya yang mulai kehilangan uap. Wajahnya tenang, tapi tangannya bergetar pelan saat memutar sendok kecil dalam cangkir porselen.Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Darren muncul dengan kemeja putih separuh dikancingkan, dasi dan jas tergantung di lengannya. Rambutnya masih basah, wajahnya terlihat segar setelah mandi, tapi tatapan matanya tetap seperti semalam: tajam, rumit, dan tak bisa ditebak.Tanpa berkata sepatah kata pun, ia menghampiri Alara dan meletakkan dasi serta jasnya di atas meja."Pakaikan," ucapnya pendek.Alara mengangkat wajah, sedikit ragu. Tapi Darren hanya berdiri di hadapannya, menatap lurus, menuntut dengan sikap tenangnya yang seperti biasa. Alara bangkit perlahan. Tangannya gemetar sedikit saat menyentuh kerah kemeja Darren, membetulkan posisinya sebelum melilitkan dasi biru gelap di leher pria itu.Darren tak menund












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.