Darren menatapnya dari jarak dekat, matanya menusuk ke dalam. "Jangan tidur dulu malam ini, Alara. Aku belum selesai denganmu."Sudut bibirnya terangkat tipis, lalu ia berbisik di telinga Alara, suaranya rendah dan berbahaya, "Kita baru saja mulai." Alara menelan ludah. Nafasnya tercekat, bukan karena takut—tapi karena intensitas tatapan itu membuat seluruh tubuhnya tegang. "Kalau begitu," ucapnya pelan, "aku akan menunggu sampai kamu selesai."Senyum tipis Darren tidak memberi rasa aman sama sekali. Satu gerakan cepat, ia menarik pinggang Alara, membuat tubuh mereka saling menempel tanpa ruang. Jemarinya menelusuri garis rahang, lalu turun perlahan, seperti sedang menguji batas kesabaran Alara."Aku tidak mau kau menunggu," bisiknya. "Aku mau kau melawan ... seperti tadi."Alara mengangkat wajahnya, memberi tatapan balasan. "Kalau itu yang kamu mau, siap-siap saja. Aku tidak pernah kalah kalau sudah memutuskan bermain."Darren tertawa pelan, tatapannya seperti singa yang baru saja m
Last Updated : 2025-11-12 Read more