Elia segera diboyong menuju kamarnya di paviliun sayap selatan. Langkah para pelayan tergesa, panik bercampur isak tertahan. Tubuh Elia terkulai lemah, wajahnya pucat.Tabib istana sudah menunggu.Saat Elia dibaringkan di ranjang, pria tua itu bergerak cepat. Ia langsung memeriksa denyut nadinya, membuka kelopak matanya, lalu meracik ramuan dengan tangan yang terlatih meskipun tegang. Aroma pahit dari cairan obat segera memenuhi kamar wanita itu.“Bagaimana keadaannya?” tanya Edric, berdiri di sisi ranjang. Suaranya rendah, penuh kecemasan.“Ratu mengalami syok berat, Yang Mulia,” jawab tabib sambil meneteskan ramuan ke bibir Elia. “Kehilangan kesadaran ini dipicu oleh guncangan emosi yang mendadak. Tubuhnya lemah, napasnya tidak stabil.”Edric mengatupkan rahang. Tangannya menggenggam jemari Elia yang dingin. “Pastikan ia selamat,” katanya lirih, tegas. “Apa pun yang kau butuhkan.”Tabib mengangguk. “Ia harus beristirahat total. Tidak boleh ada kabar buruk yang sampai kepadanya, seti
Last Updated : 2026-01-06 Read more