LOGINAna Merwin hanya pelayan dapur istana—hingga takdir memaksanya menggantikan sang putri dalam pernikahan politik. Dia dipaksa menikahi The Black Phantom, Pangeran Leonhart yang dikenal buruk rupa, dingin dan menakutkan. Namun, setelah mahkota dikenakan di kepalanya, satu demi satu rahasia istana mulai terungkap. Tatapan sang ratu berubah ngeri saat melihat wajahnya. Tanda lahir di tubuh Ana membangkitkan kenangan kelam masa lalu. Siapa sebenarnya Ana Merwin? Dan mengapa kehadirannya bisa mengguncang takhta kerajaan?
View More“Jangan menatapnya terlalu lama. Kau bisa lupa siapa dirimu.”
Ana mengangkat wajahnya dari cermin kecil di ruang rias. Suara itu datang dari pelayan tua di belakangnya—yang hari ini ditugaskan mendandani Putri Clarissa.
Ana hanya menunduk dalam. Tangannya gemetar saat menyentuh bros emas yang tersemat di dada gaunnya. Gaun itu bukan miliknya. Nama ini pun bukan miliknya. Namun malam ini, ia akan melangkah ke tengah aula sebagai Putri Clarissa—dalam acara pertunangan politik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semuanya demi sang Ratu. Ia merasa terjebak di sana. Padahal ia hanyalah seorang koki yang ditugasi untuk membuat kue tart ulang tahun untuk sang putri. Tak dinyana, tiba-tiba ia diseret masuk ke dalam ruang rias sang putri.
Sebuah veil tipis menutupi wajahnya, menyamarkan identitas yang ia pinjam. Beberapa kali ia menghela nafas sesak. Ia tidak bisa melarikan diri seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Takdir sedang mempermainkannya.
“Yang Mulia menunggu di aula. Ingat, Ana Merwin, kau bukan siapa-siapa.” Wanita bersanggul Valmere Knot itu berkata dengan nada sinis.
Ana mengangguk perlahan lalu menegakkan punggungnya. Jantungnya berdentum keras di balik tulang rusuknya. Setiap langkah terasa berat seperti sedang berkelana di hutan belantara. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia bisa pulang atau justru malah tersesat.
Aula megah disulap begitu indah. Mata Ana menyipit tatkala disambut oleh cahaya berasal dari chandelier lilin yang berkilauan. Beberapa detik ia merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya. Semua netra langsung terpacak padanya. Bisik-bisik para tamu undangan pun mulai menggema ke udara.
“Putri Clarissa menjadi tumbal sang Ratu,” ujar salah satu duchess di balik kipas bermotif heraldik yang menutupi setengah wajahnya.
“Ratu Seraphina sangat mencintai Putri Clarissa sampai pernikahannya pun diatur,” jawab yang lain dengan nada satir.
“Kalian tahu, pangeran dari keluarga Ravensel itu monster. Tak ada satu wanita pun yang tertarik padanya. Dia hanya pangeran yang terbuang, keji dan pembunuh berdarah dingin,” imbuh yang lain ikut memprovokasi. Seketika gosip itu langsung memanas di telinga Ana.
Pantas, Putri Clarissa tidak bersedia dijodohkan dengan pria semacam itu. Sepengetahuan dirinya, gadis itu menyukai pria yang tampan.
“Aku dengar, dia bahkan membunuh ibu kandungnya sendiri,” kata yang lain sembari saling lirik penuh arti saat Ana melewati mereka.
Perasaan Ana makin tak karuan setelah mendengar gunjingan mereka. Ia merasa seperti sedang berada di tiang gantung. Seburuk itu kah calon suami Putri Clarissa?
“Kau tau, dia memakai topeng phantom karena wajahnya terluka saat perang. Ia cacat dan buruk rupa. Lengkap sudah, siapa juga yang mau menikah dengannya kalau karena bukan kepentingan politik,” lanjut wanita lain yang ikut bergabung bersama mereka.
Sebelum Ana sempat mundur, gadis bangsawan lain sudah menarik tangannya. Ia adalah sepupu Putri Clarissa dari sang raja, Lady Amber yang terkenal dengan kecerdasannya dalam ilmu hitung.
“Selamat ya! Aku harap kau bisa bersenang-senang dengan pangeran itu. Tak apalah dia berwajah jelek, tapi kau bisa mendapatkan kompensasi, kan? Kekuasaan, kekayaan… yah, apa pun yang diimpikan gadis-gadis istana.”
Amber tertawa pelan, manja, tanpa menyadari kekakuan Ana. Ia benar-benar tidak menyadari siapa gadis yang diajak bicara olehnya.
“Ayahku bilang kau sangat beruntung dijodohkan dengannya. Katanya, hanya karena dia cacat dan temperamental, kau bisa mendapatkan hak veto dalam istana kelak! Bukankah itu menguntungkan?” Amber terkikik. Ia memang gadis yang ekspresif.
Ana hanya menghela nafas pelan mendengar celotehan gadis berambut pirang itu.
Amber berjalan mendekatinya, berbisik pelan. “Asal kau kuat menahan baunya saja. Mulutnya bau seperti telur busuk dan bawang putih mentah. Dia jarang mandi dan lebih sering bermandikan darah,”
Ana semakin bergidik ngeri mendengar ucapan Lady Amber meskipun dengan nada setengah bercanda. Bukan tanpa alasan, para putri bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama tentang pangeran itu.
Tubuh Ana membatu, bukan hanya karena rasa takut, tapi karena perasaan getir dan amarah yang menyesakkan dada. Ia hanyalah pelayan istana yang dipaksa mematuhi perintah sang ratu. Ia tidak bisa memilih.
“Lady Amber...” Ana akhirnya membuka suara, datar. “Apa kau selalu mengukur cinta dan pernikahan dengan fisik dan jabatan?”
Tunggu, Lady Amber merasa asing mendengar suara Putri Clarissa yang terdengar lain. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan Ana, ia langsung ditarik oleh ibunya, Lady Leoni.
“Aku pinjam dulu, Amber, Clarissa,” kata Lady Leoni tersenyum canggung pada Ana. Lalu ia menarik pergelangan tangan putrinya. “Kau harus berkenalan dengan putra bangsawan dari timur. Ayo!”
Ana hanya mendesah pelan tatkala melihat kepergian mereka. Ia hampir terpancing dan membongkar identitasnya sebagai Putri Clarissa yang palsu.
Semua orang membungkuk menghormatinya. Mereka menatap Ana dengan tatapan yang rumit. Di balik Veil, Ana justru menatap mereka dengan tatapan tajam. Ia menekuri setiap orang yang berada di sana. Dalam hati, ia bertanya, apakah di antara mereka adakah yang masih berhubungan darah dengannya?
Tak berselang lama, para tamu undangan yang berasal dari para bangsawan tinggi itu menoleh dengan keheranan ke arah yang lain, saat Pangeran Leonhart Ravensel muncul dari balik lengkungan gerbang istana yang menjulang pongah dan diselimuti aura kelam yang membuat bulu kuduk meremang.
Para putri bangsawan yang hadir menahan nafas saat pria itu melangkah melewati mereka. Seakan pangeran yang dijuluki the Black Phantom itu adalah jelmaan dewa iblis yang bisa menghabisi siapapun yang tidak disukainya.
Topeng besi menutupi separuh wajahnya. Terlihat misterius. Sorot matanya tajam, tak bisa dibaca. Semua orang membisu—bukan karena terpana, tapi takut.
Menurut rumor yang beranak pinak, wajahnya cacat karena luka perang sehingga mengenakan topeng phantom. Ia juga pernah menghabisi seorang penjaga hanya karena melihat wajahnya tanpa izin. Ia bukan pangeran yang di elu-elukan oleh para wanita. Ia adalah pangeran yang terbuang.
Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti… tepat di hadapannya.
Tubuh Ana bergetar hebat. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa?
Clara dan Nathan menaiki kereta yang telah disiapkan istana. Roda-roda besarnya berderit pelan saat mulai bergerak, sementara di sekelilingnya para pasukan elit telah mengambil posisi, menunggangi kuda-kuda mereka dengan postur tegap dan penuh wibawa.Formasi pengawalan tersusun rapi dan disiplin. Empat prajurit berkuda memimpin di barisan depan, mata mereka awas menyisir jalanan yang akan dilalui. Di sisi kanan dan kiri kereta, masing-masing satu prajurit berkuda menjaga jarak dekat, memastikan keselamatan Clara dan adiknya di setiap langkah perjalanan.Sementara itu, di bagian belakang, empat prajurit lainnya menutup barisan. Mereka bertugas mengamankan ekor rombongan, siap siaga menghadapi kemungkinan terburuk—terutama ancaman para bandit yang kerap mengintai di jalur perjalanan.Perjalanan berlangsung dengan begitu hening. Hanya terdengar suara derak roda kereta yang berputar melewati jalan dan sesekali suara ringkik kuda dari arah belakang. Di dalam kereta, Clara mencoba membuka
“Nona Clara, bagaimana perlakuan Pangeran Dragoria selama kau berada di sana?” tanya Sir Aldren dilanda penasaran.Clara menarik napas dalam sebelum menjawab. Dia mencoba mengingat setiap kepingan memori selama berada di sana. Senyum tipis terulas di wajahnya. Argh, ia merasa seperti seorang wanita yang beruntung, diperebutkan oleh dua pangeran tampan.Sir Aldren menjungkitkan sebelah alisnya melihat reaksi si alkemis Clara, lalu tatapannya beralih pada prajurit yang berada di sebelahnya, seolah mereka tengah berbicara dengan isyarat mata. Kenapa dengan gadis itu? Apa jangan-jangan gadis itu mulai tidak waras karena perlakuan yang kejam dari pangeran Dragoria yang terkenal karena kekejamannya. Sir Aldren membayangkan jika Clara pasti mengalami tekanan batin selama berada di sana. Setiba di Ravensel, ia harus menjalani berbagai pengobatan. Kesehatan batinnya bisa saja terganggu. “Istirahatlah, Nona Clara. Maafkan aku. Lupakan soal pertanyaan barusan,” kata Sir Aldren terdengar seriu
Pagi itu, Evander sudah mandi dan bersiap-siap akan pulang ke Ravensel. Tugasnya mengawasi perbatasan timur telah usai. “Jayden?” tanya Evander kepada salah satu prajurit senior terpercaya—yang tengah memberi makan kuda dengan jerami kering. Prajurit itu menoleh lalu menghentikan aktivitasnya dan segera menghampirinya. “Ada apa Yang Mulia?” tanyanya bernada khawatir apalagi melihat mimik muka Evander yang tampak serius. Semoga saja tidak ada masalah sebelum keberangkatan mereka kembali ke istana. Evander terdiam sesaat sebelum melanjutkan. Ia menatap sekelilingnya. Para prajurit lain tidak ada di sana. Kemudian tatapannya kembali fokus pada Jayden. “Geledah semua bawaan para prajurit!”“Hah?” gumam Jayden menganga saking terkejut mendengar perintah tak biasa itu di pagi hari. “Kau tuli! Geledah bawaan mereka sekarang,” ulang Evander, intonasinya penuh penekanan. Sorot matanya berkilat penuh emosi yang tertahan. Jayden mengangguk patuh. Suaranya tegas. “Baik, siap laksanakan Yan
Cahaya menyelinap melalui celah jendela. Inez terbangun lebih dulu. Ia menatap wajah seorang pria yang tertidur, damai dengan cara yang membuat dadanya sesak.Sesaat ia menahan napas, mencoba menggali ingatan sebetulnya apa yang terjadi semalam? Kenapa ia berada di sana? Dalam keadaaan … ah sukar dijelaskan.Inez memejamkan matanya erat, berharap ketika ia membuka matanya ia sedang bermimpi di tempat yang indah. Naasnya, ketika ia membuka matanya lagi, pria itu masih berada di sana dengan satu tangan masih memeluk pinggangnya.Ia bangkit perlahan, meraih tangan besar itu dengan lembut, memindahkannya. Ketika ia melakukan pergerakan kecil, saat itulah sosok pria itu terjaga hingga akhirnya tatapan mereka bertemu dengan rasa keterkejutan yang tertahan. Flashback on,Inez berjalan sempoyongan hingga masuk ke dalam penginapan di mana di sana hanya ada dua kamar yang terbilang lebih baik dan nyaman untuk seorang pangeran. Kebetulan kamar mereka bersebelahan. Sementara itu para prajurit la






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore