INICIAR SESIÓNEvander terkesiap. “Kenapa Anda tidak bisa membantuku? Aku bisa bayar mahal untuk perjalanan ini,”Seketika wajah nelayan itu berubah pahit. “Badai besar terjadi perairan menuju Ravensel. Kami para nelayan tidak berani berlayar ke sana sekarang,” jawab nelayan itu merasa bimbang. Raut wajah Evander berubah muram seketika. Baiklah, ia tidak memaksa nelayan itu membantunya. “Kalau begitu aku ingin kau memberitahuku bagaimana caranya agar aku bisa ke Ravensel lewat jalur darat.” Evander berkata sembari sedikit memelas. Nelayan tua itu membungkuk lalu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. “Ini ada peta menuju kota. Kau bisa ambil jalur ini agar terhindar dari binatang buas,” lanjut pria tua itu sembari menyerahkan gulungan peta pada Evander. “Maafkan aku, Anak Muda. Saat ini aku hanya bisa membantumu memberikan alamat.” Pria itu mengakhiri percakapan singkat itu. Evander pun memutuskan kembali ke tenda. Di sana Inez menunggunya, berdiri tegak menahan sakit di kakinya. Rambut gelapn
“Sial. Mereka datang!” pekik Clara, suaranya melengking sebelum sempat ia redam.Dua pria suku Thornak tengah berpatroli di sisi barak. Begitu melihat jeruji kayu yang mengurung tawanan sudah terbuka dan seorang alkemis berdiri bebas di depannya, tatapan salah satu dari mereka langsung mengeras. Ia memuntahkan kata-kata kasar dalam bahasa daerahnya.“Hei!” Tatapan mereka langsung tertumbuk pada sosok Clara dan Hector.Clara tak menunggu terjemahan. Bersegigas, ia langsung menarik tangan Hector. Keduanya berlari secepat mungkin, kaki mereka menghantam tanah keras seperti dikejar setan yang mengerikan.“Hector, cepat!” teriak Clara sambil menoleh sekilas.“Aku cepat!” balas Hector terengah, meski tubuh besarnya jelas tak sepakat dengan pernyataannya. “Ini lari cepat versiku!”Teriakan para Thornak menggema di belakang. Langkah kaki mereka terdengar semakin dekat. Clara membelok tajam ke celah sempit di antara tumpukan gelondongan kayu dan kain kering, nyaris menyeret Hector masuk.“Hect
“Semua salahmu,” beo Hector menatap Clara dari sudut matanya. Clara diam dengan wajah yang santai seperti tidak terjadi apa-apa. Meskipun Hector mengomel panjang pendek, ia tidak peduli. “Kau mendengarku?” desis Hector lama kelamaan merasa jengkel karena tidak direspon oleh wanita muda yang juga duduk di sampingnya. “Kalau kau tadi tidak melawan kita tidak akan berakhir seperti hewan buruan,”Kini ke dua orang yang malang itu malah menjadi tawanan salah satu suku pedalaman asing bernama suku Thornak—yang terkenal sebagai suku yang keras dan tidak mengenal dunia luar. Clara baru mengenali mereka setelah melihat tato yang tergurat di kulit mereka. Sekilat mirip tato seekor kucing kudisan tetapi setelah diamati dengan seksama itu adalah tato bergambar singa yang tampak berusaha buas.Cara berpakaian dan berbicara pun semua terdengar asing. Oleh karena itu baik Clara maupun Hector hanya bisa membaca isyarat wajah dan gesture mereka saat berbicara. Ke dua tangan mereka diikat dengan tal
Di pesisir pantai yang berbeda, tepatnya pantai selatan dari arah wilayah Dragoria. Seorang wanita terbangun dengan wajah yang menempel pada pasir hitam. Ia mengerang, mengangkat kepala sedikit. Matanya membola saat pandangannya beredar. Lalu ia menegakan tubuhnya dan buru-buru meludah ke arah sebelahnya. “Uggh! Pasir!” beonya tanpa sadar ia meludahi pria bertubuh gempal yang meringkuk memeluk gelondongan kayu di dekatnya. Sontak, pria bertubuh gempal itu terbangun kaget saat air ludah mengenai wajahnya. Ia mengusap wajahnya kasar. “Demi, Tuhan! Terkutuk kau yang meludahi nakhoda terbaik armada Ravensel.” Dia mengumpat lalu bangun dan menjatuhkan gelondongan kayu itu hingga menimpa kakinya.Brugh! “Ough!” jeritnya kesakitan. Ia melompat-lompat dengan memeluk satu lututnya. “Tuhan, kenapa aku selalu ditimpa kesialan!”Wanita yang meludah tadi terkekeh pelan melihat pria itu yang mendapat kesialan ke dua kalinya. Ia tersenyum miring. “Itu balasan dari Tuhan, karena kau egois dan tak
Suasana kamar malam itu menjadi tegang seketika. Betapa tidak, Leon merasa kesal dan murka melihat pipi istrinya yang lebam akibat tamparan keras dari ibu tirinya. Melihat reaksi Leon, Ana menggeleng pelan. “Aku tidak ingin membuat masalah. Evander belum ditemukan. Semua orang berduka. Ratu Elia hanya—”Wajah Leon membeku. Rahangnya mengetat. “Elia pelakunya,” ia memalingkan wajahnya dengan tawa getir. Lalu ia kembali menatap istrinya lekat. “Kau biarkan dia menamparmu?” suaranya naik satu oktaf.Gegas, Ana mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia menggenggam tangannya erat. “Semua terjadi karena kesalahpahaman. Dia sedang frurtrasi karena anaknya menghilang. Jadi—”Ana menghela napas panjang. “Dia bersikap kasar karena sedang syok, frustrasi dan kehilangan satu-satunya bagian dari dirinya.”Leon melepas tangannya dari genggaman Ana. Matanya dipenuhi kilat amarah. Ia tidak terima siapapun melukai istrinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ia takkan membiarkan siapapun men
Tenda yang dibangun oleh Evander sudah siap. Meskipun tenda tersebut berukuran kecil, cukup untuk berlindung sementara bagi Inez.“Kita masuk!” imbuh Evander spontan begitu saja. Sebetulnya, ia membangun tenda untuk Inez saja karena saat itu tidak memungkinan membuat tenda yang jauh lebih besar dari itu. Bahan-bahan sangat terbatas.Inez menegang tatkala mendengar ajakan Evander. Sementara itu melihat reaksi Inez, Evander meralat ucapannya. “Kau masuklah! Aku akan berjaga di luar,” imbuh Evander dengan tersenyum tipis. Ditatap seperti itu, jantung Inez berdegup kencang. Namun ia segera mengusir rasa itu. Mengingat tadi saat ia berada setengah sadar dipeluk oleh Evander dan tak menolak, ia merasa ingin menggali tanah bersembunyi di dalamnya. Ia telah melakukan hal bodoh, pikirnya.‘Inez, ingatlah! Kau tidak boleh terjerat oleh perangkap Evander. Ingat, dia seorang pangeran. Kau hanyalah pengawal tanpa gelar bangsawan,’ batinnya berisik seperti angin ribut. Setelah pulang mungkin kede







